Written by KESAKSIAN KRISTEN on 23.21





"Buta" karena harta-"Melihat" karena Kasih Tuhan
- Amat Paulus Tantoso-


Penghasilan yang diterimanya setiap bulan bisa mencapai miliaran rupiah, demikianlah sukses Amat Paulus Tantoso, pengusaha money changer dan toko emas asal Batam ini. Mengalami masa keemasannya pada tahun 2001, membuatnya meraih penghargaan Pengusaha Muda Terbaik.

"Waktu itu saya sudah mulai sombong, saya pikir saya hebat sekali," Ungkap Tantoso.

Memiliki dua toko emas dan 17 cabang money changer dengan penghasilan besar, tidak lantas membuat Tantoso merasa puas.

"Saya lihat teman-teman saya yang memiliki usaha sembako, kok bisa jadi hebat dan usahanya besar. Hal itu membuat saya timbul niat jahat, saya ingin memonopoli seluruh distribusi gula pasir di seluruh kepulauan Riau. Untuk itu siapa saja yang berusaha menghalang-halangi usaha saya, maka saya tidak segan-segan untuk menghancurkannya."

Kehebatan Kesuksesan yang didapat Tantoso ternyata hanyalah topeng. Dibalik semua kesuksesannya tersebut ada sebuah sisi gelap yang disembunyikan Tantoso.

"Dulu dari seluruh usaha saya, setiap bulan mendapatkan penghasilan satu miliar lebih. Namun kadangkala pengeluaran saya lebih besar dari penghasilan, karena saya selalu mengajak teman-teman saya untuk pesta narkoba, main perempuan dan pergi ke tempat hiburan malam. Satu malam saya bisa habis 40 hingga 50 juta."

Tidak hanya itu, hubungannya dengan istri sudah tidak harmonis lagi. Dihadapan orang-orang, pasangan ini terlihat sangat harmonis, namun Suti, istrinya seringkali dipukuli dan dianiaya olehnya. Tangisan dan rintihan istrinya tak pernah digubriskan. Rasa putus asa Suti membuatnya mengambil jalan pintas dengan mencoba bunuh diri.

Suatu saat Suti mendapatkan imformasi dari seorang teman dekat Tantoso bahwa suaminya berselingkuh. Suti tidak dapat mempercayai hal itu. Suti semakin sedih, kalut dan sakit hati sehingga dia meminta di ceraikan oleh Tantoso.

Diancam cerai oleh istrinya tidak mengubah tabiat Tantoso sama sekali, bahkan hal itu semakin membuat Tantoso membenci istrinya. Ketika kemarahannya memuncak, Tantoso sanggup melakukan hal yang sangat mengerikan.

"Saya pikir istri minta cerai tidak apa-apa. Saya punya uang, dengan itu saya bisa dapat istri lagi kok."

Hari itu Tantoso pulang dalam keadaan mabuk dan ditegur oleh istrinya. Hal tersebut membuat Tantoso naik pitam. Tantoso mengambil samurai hendak membunuh istri dan kedua anaknya. Namun saat samurai itu sudah terhunus, kilasan wajah anak keduanya membuatnya berhenti dan mengurungkan niatnya.

Anak kedua Tantoso dan Suti telah meninggal dunia sewaktu masih kecil. Demikian Tantoso menuturkan kisah kematian anaknya, "Pada hari kejadian, saya dan istri akan pergi ke rumah mertua saya. Karenanya anak kami itu kami tinggalkan di jaga oleh pembantu saya saat itu. Pada malam itu, ada acara joget di kampung kami, dan pembantu kami meninggalkan anak kami tersebut dirumah sendirian. Anak kami tersebut menangis hingga mati lemas."

Akibat kematian anak keduanya, Suti hampir saja gila. Itulah yang membuat Tantoso dan istirinya pindah ke Batam, supaya bisa melupakan kejadian yang memilukan itu.

Mengingat rasa kehilangan yang sangat besar akan anaknya yang kedua membuat Tantoso menyarungkan kembali samurai yang telah dihunusnya.

Sekalipun rumah tangganya diambang kehancuran, Tantoso tetap berjaya dalam usaha kotornya, sampai hukum menjeratnya.

"Pertama kali saya didakwa tentang penyeludupan uang atau money laundry, namun hal tersebut tidak terbukti. Dan selanjutnya didakwa lagi dengan korupsi uang perusahaan, saya menolak dakwaan tersebut dan saya buktikan bahwa perusahaan tersebut adalah milik saya sendiri. Pada akhirnya saya didakwa dengan kasus penggelapan pajak."

Perkiraan Tantoso hukumannya hanya satu tahun saja, karena kasusnya adalah kasus perdata. Namun perkiraan tersebut salah, Tantoso dituntut hukuman 4 tahun 6 bulan penjara dan denda belasan miliar rupiah. Merasa di khianati oleh rekan bisnisnya, hati Tantoso menjadi terbakar kebencian. Rasa sakit hatinya membuat Tantoso berniat melakukan sesuatu yang nekat.

"Saya merasa dendam sekali kepada orang-orang yang memasukkan saya ke penjara. Dalam pikiran saya, saya ingin menghancurkan mereka. Bahkan saya sempat mengorder orang untuk membunuh orang-orang itu."

Tetapi ancaman hukuman yang lebih berat lagi membuat Tantoso mengurungkan niatnya itu. Dipenjara itulah Tantoso merasakan kesengsaraan yang amat sangat, dia tidak bisa menerima keadaanya itu. Namun kesengsaraan itu tidak dialaminya sendiri, namun juga harus ditanggung oleh istri dan anak-anaknya. Satu per satu hartanya disita, dan dalam sekejab hutang perusahaan semakin membengkak.

"Anak-anak saya sangat drop sekali. Anak-anak malu ke sekolah, karena banyak orang menanyai mereka: bapak kamu yang dulu hebat, kenapa sekarang dipenjara?- "

Melihat penderitaan suami dan anak-anaknya, Suti berusaha dengan berbagai cara untuk mengeluarkan Tantoso dari penjara. Namun semua upayanya untuk melepaskan suaminya dari penderitaan sia-sia belaka. Nama dan reputasi Tantoso dalam sekejab hancur.

Tantoso merasa tertekan dan stress, hal itu membuatnya mengambil keputusan untuk mengakhiri semua penderitaan dengan cara bunuh diri.

"Saya masih ingat, hari itu hari Sabtu. Saya merasa stress dan tidak berharga lagi. Hidup ini seperti sampah yang sangat kotor, dan dibuang orang. Karenanya hari itu saya berniat untuk bunuh diri."

Pada saat Tantoso sedang memikirkan rencananya untuk bunuh diri, tiba-tiba seorang teman napi mengajaknya ke aula dimana sedang ada sebuah pertemuan.

"Waktu itu, saya pikir oke-oke saja. Karena disana ada nyanyi-nyanyian. Jadi saya ikut saja."

Dengan maksud mencari hiburan, Tantoso masuk ke dalam ruangan pertemuan itu. Disana dia mendengarkan seorang nenek yang sedang menceritakan tentang dirinya. Disitulah awal keajaiban terjadi dalam hidup Tantoso.

"Oma Magie hari itu bersaksi, beliau setiap hari membaca koran tentang kasus saya, dan beliau bersama suaminya selalu berdoa bagi saya setiap hari. Waktu itu saya berpikir, Tuhan Yesus memang baik. Hidup saya yang dipandang orang sudah tidak berguna, tapi Tuhan Yesus begitu baik, masih ada orang yang menyayangi saya. Dengan oma itu, saya tidak memiliki hubungan apa-apa. Saya bahkan tidak kenal dengan beliau, tapi mengapa dia mau mengasihi saya? Sebelumnya saya berharap kepada teman-teman pengusaha dan keluarga, namun mereka semua menjauhi saya. Tapi orang Kristen ini mengapa begitu mengasihi saya? Hal itulah yang membuat saya ingin tahu, apa itu Kristus." Hari itu Tantoso mengijinkan nenek Magie untuk mendoakannya.

Dalam kesendiriannya, Tantoso mulai datang pada Tuhan dan berdoa memohon ampunan dari-Nya.

"Saya pikir, saya ini orang yang sangat jahat dimata Tuhan. Saya merasa seperti sampah yang sangat kotor. Saya minta Tuhan Yesus ampuni dosa-dosa saya. Saya juga berdoa, kalau Engkau Tuhan yang dasyat maka Engkau akan menyelamatkan aku."

Diluar dugaan, saat vonis dijatuhkan, Tantoso hanya dikenakan hukuman dua tahun penjara.

"Pada saat saya di persidangan, saya tidak lagi menyembah yang lain-lain lagi. Saya hanya menyembah kepada Tuhan Yesus. Hati saya sangat bersukacita, karena Tuhan Yesus sudah menyelamatkan saya. Ternyata Tuhan sangat baik. Saya menjalani hukuman dengan senang, karena didalam firman Tuhan mengatakan, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Korintus 10:13). Disitulah saya pikir, hal itu benar juga. Dibandingkan orang lain, pencobaan yangs alami masih kecil"

Selama menjalani hukumannya, Tantoso menjalaninya dengan penuh sukacita dan pengharapan kepada Tuhan. Iapun mendapatkan remisi, sehingga pada tanggal 29 September 2005, Tantoso sudah bisa menghirup udara bebas.

"Saya bersyukur karena saya sudah bertobat. Sekiranya saya tidak diselamatkan oleh Tuhan Yesus, maut yang akan mengejar saya. Dan jika saya tidak masuk ke penjara, saya tidak akan mau bertobat."

Berlahan-lahan Tantoso dan Suti mulai membenahi keluarganya dan juga melunasi hutang-hutang perusahaannya. Dan kini keadaan usahanya sudah kembali membaik.
"Saya bangga dengan Tuhan Yesus yang memberi saya kelegaan pada waktu saya putus asa dan merasa tidak berguna lagi. Tuhan Yesus datang memberikan keselamatan tepat pada waktunya. Saya sangat bersyukur, setelah saya bertobat saya baru merasakan hidup ini banyak keindahan. Semua itu karena Tuhan Yesus selalu menyertai kami."

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 23.11











Atheis Masuk Kristen

Selama bertahun-tahun, C.S Lewis penulis karya Narnia, merupakan seorang ateis yang sangat sulit untuk diyakinkan tentang keberadaan Tuhan. Dibutuhkan pergumulan intelektual yang panjang sebelum Lewis akhirnya menerima keberadaan Tuhan. Lewis seringkali membombardir teman-temannya di Oxford, tempatnya belajar dan tempat dimana akhirnya ia mengajar, dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan yang baginya memang tidak ada jawabannya.

"Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu kejam?"

"Mengapa Tuhan Anda mengizinkan seorang bayi meninggal?"

"Mengapa Tuhan Anda mengizinkan hewan yang tidak berdaya menderita sakit?"

"Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu besar tapi hanya satu planet yang dapat didiami?"

"Mengapa alam semesta ciptaan Tuhan Anda ini berjalan sesuai dengan perkiraan para ilmuwan?"

"Jika Tuhan Anda itu baik dan maha kuasa, mengapa begitu banyak dari makhluk ciptaan-Nya yang tidak gembira? Bukankah Ia maha pengasih?"

"Mengapa manusia selalu terlibat dalam perang dan saling membunuh?"

Salah satu teman diskusinya adalah J.R.R Tolkien, penulis trilogi "Lord of the Ring" yang sangat dihormati Lewis sebagai lawannya dalam berdebat. Salah satu hal yang membuat Lewis mempertimbangkan keberadaan Tuhan yaitu dikarenakan hampir semua teman-temannya yang brillian di Oxford merupakan orang yang percaya pada Tuhan, termasuk Tolkien. Di benaknya, ia sering dibayangi pertanyaan, "Mengapa?"

Lewis adalah sosok yang sangat gemar membaca. Semua karya tulisan dari penulis barat yang terkenal dipelajari dan diteliti olehnya. Chesterton, Samuel Johnson, Spenser, Milton, Dante, John Donne, George Herbert dan Bunyan. Ia menemukan bahwa tulisan mereka sangat mendalam, kaya dan begitu nyata dalam menggambarkan kehidupan sehari-hari. Dan penulis-penulis ini semuanya merupakan orang Kristen. Bagaimana dengan penulis-penulis humanis yang terbesar, yang kebanyakannya adalah ateis? George Bernard Shaw, H.G Wells, John Stuart Mill dan Voltaire - mengapa karya mereka terkesan begitu dangkal, tidak kaya ataupun berisi makna bagi kehidupan sehari-hari?

Pada waktu itu Lewis hanya percaya pada rasionalisme dan materialisme. Tetapi di dalam pencariannya yang panjang, ia akhirnya harus mengakui bahwa materi dan rasio tidak dapat menjelaskan pengalaman manusia. Setelah begitu banyak membaca, ia semakin menyakini akan eksisnya satu pengaruh supranatural. Tetapi masih sulit baginya untuk menerima bahwa rasio yang berada di balik alam semesta ini atau pengaruh supranatural itu adalah Tuhan.

Malam demi malam ia bergumul sendirian di kamarnya di Magdalen Kolej, ia terus menolak untuk menerima identitas dan realitas Sang Mutlak. Di musim semi 1929, saat ia sedang berada di dalam sebuah bus di Oxford, tanpa kata-kata dan sesuatu apapun, tiba-tiba ia merasa terbebani dan dingin, seperti manusia es yang tidak terjangkau. Sesaat ia merasa harus membuat suatu keputusan. Lalu, hatinya yang sekeras batu, sedikit demi sedikit mulai mencair. Ia kemudian percaya. Di dalam kesendiriannya di atas bus, ia akhirnya mengakui bahwa Yang Mutlak adalah Roh. Roh adalah Tuhan. Dan Lewis menjadi seorang percaya (theis).

Ia menulis pada temannya, "Aku menyerah. Aku mengaku Tuhan adalah Tuhan." Ia menggambarkan dirinya sebagai orang percaya yang paling enggan dan patah hati. Ia menulis kepada teman baiknya, "Hal-hal yang mengerikan sedang terjadi kepada saya, sebaiknya Anda segera datang untuk menemui saya, jika tidak saya mungkin akan masuk biara…"

Walaupun Lewis akhirnya menerima eksisnya Tuhan tetapi ia masih belum dapat memahami seluruh konsep tentang Kristus. Ia tidak dapat memahami bagaimana kehidupan dan kematian seseorang yang hidup 2000 tahun yang lalu dapat membantunya sekarang. Ia cukup mengenal Kekristenan untuk mengetahui bahwa teladan Kristus bukanlah jantung dari Kekristenan. Ia tahu bahwa ia harus menyakini bahwa darah Domba Allah itu telah menebusnya sekarang.

Lewis mendiskusikan dilemanya dengan Tolkien. Di suatu malam saat mereka berjalan-jalan di antara rusa dan pohon-pohon besar di taman, Lewis mengutarakan dilema yang dialaminya.

Tolkien berkata, "Kekristenan adalah kebenaran, satu fakta historis."

"Jika saya tidak memahami makna penyaliban atau kebangkitan atau penebusan, bagaimana saya dapat percaya pada Kristus?" Lewis berdiskusi.

Tolkien yang tahu Lewis sangat menyukai naskah bukunya tentang Hobbit dan mitos, yang akhirnya diterbitkan sebagai trilogi, "Lord of the Ring", bertanya, "Anda sangat menyukai mitos, bukan?

"Tentu saja" jawab Lewis.

"Apakah Anda senang dengan unsur seorang tuhan yang mati namun hidup kembali?"

"Ya", aku Lewis, "tapi saya tidak tahu mengapa".

"Saya juga tidak," jawab Tolkien. "Mengapa Anda begitu menuntut kejelasan tentang Kekristenan? Terima saja fakta bahwa Kekristenan adalah mitos yang sesungguhnya terjadi."

"Tetapi mitos itu bohong," Lewis berargumentasi, "tidak ada nilainya, walaupun mitos begitu menyenangkan."

"Tidak," Tolkien berpendapat, "mitos yang Anda katakan bohong itu adalah mitos manusia, walaupun mereka mengandung sedikit kebenaran. Mitos yang sepenuhnya benar – kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus – adalah mitos Allah."

"Mungkin saya terlalu menuntut dari suatu misteri, tetapi bukankah percaya itu pada akhirnya adalah kasih karunia dari Allah?" Lewis menalar.

Seminggu setelah percakapan itu, Lewis dibonceng oleh kakaknya, Warnie untuk mengunjungi kebun binatang. Perjalanan ke kebun binatang itu hanya berjarak 50 km, tetapi bagi Lewis perjalanan itu menempuh jarak 2000 tahun. Lewis sendiri tidak dapat merumuskan proses atau alasan yang dapat menjelaskan tentang apa yang terjadi. Ia berkata, bahwa seolah-olah selama ini ia sedang tertidur lena dan tiba-tiba ia sadar dan bangun. Saat ia turun dari sepeda motor itu, ia percaya pada Kristus. Lewis dengan rendah hati menyimpulkan, "Itulah kasih karunia Tuhan". Pada waktu itu Lewis berusia 33 tahun.

Buku pertama yang ditulisnya setelah ia percaya adalah Pilgrim Regress yang mendapat sambutan yang baik dari publik. Lewat buku-buku dan program-program radionya yang popular, Lewis banyak menyakinkan orang awam akan kebenaran Kekristenan. Tetapi Lewis juga sangat menyadari bahwa banyak orang tertarik dengan Kekristenan pada awalnya tetapi, setelah mereka mempelajarinya lebih dalam, mereka akan menolak dengan keras. Karena Kekristenan itu tidak mudah. Tuhan menuntut penyerahan yang total dan memperlihatkan kepada manusia akan jurang yang begitu besar antara daging dan yang supranatural.

Untuk menyadarkan orang Kristen akan bahaya yang mengiringi perjalanan spiritual orang percaya, Lewis menulis 31 artikel yang akhirnya dibukukan menjadi The Screwtape Letters. The Screwtape Letters merupakan surat-surat dari seorang setan senior kepada setan junior, yang sedang belajar bagaimana untuk menghancurkan iman orang Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1942 dan Lewis mendedikasikan buku itu kepada Tolkien.

Pergumulan intelektual Lewis dari seorang ateis menjadi seorang percaya membuatnya calon yang tepat untuk menulis tentang apologetika atau mempertahankan iman Kekristenan. Lewis akhirnya menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang sering dipakainya untuk menantang orang-orang percaya. Buku yang berjudul The Problems of Pain yang bertujuan untuk menjelaskan penderitaan kemudian menerima sambutan yang hangat di kalangan orang awam. Ia berkata kepada kakaknya, "Saya harus menyakinkan pembaca bahwa saya menganjurkan Kekristenan bukan karena saya menyukainya atau karena itu baik bagi masyarakat, tetapi karena Kekristenan adalah kebenaran. Hal ini memang terjadi. Suatu fakta sentral dalam keberadaan kita!" Dari seseorang yang keras menolak kebenaran, Lewis kemudian menjadi seseorang yang tidak tergoyahkan dalam keyakinannya akan kebenaran dan eksistensi Tuhan.

(Artikel berdasarkan buku berjudul "C.S. Lewis, Creator of Narnia" oleh Sam Wellman, 1997)

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 23.01

Si Pencabut Nyawa
Nama saya Edhie Sapto. Pekerjaan saya dahulu adalah pembunuh bayaran. Orang bilang saya adalah pembunuh berdarah dingin. Membunuh bagi saya adalah tindakan yang biasa saja, saya tidak mempunyai rasa takut. Selain membunuh saya mempunyai usaha lain yaitu usaha ganja yang saya ambil dari Aceh.



Kejahatan Edhie Sapto dimulai sejak ia kanak-kanak.

Sejak SD saya sudah lepas dari keluarga, saya kost di Yogya. Karena di lingkungan saya orang-orangnya ‘semacam itu' akhirnya saya mulai belajar merokok, mulai belajar mengisap ganja. Saya juga mulai disuruh-suruh oleh mereka. Dengan cara seperti itu saya sudah terdidik oleh mereka.

Penjara tidak berarti apa-apa bagi Edhie.

Saya masuk penjara sudah tujuh kali. Ada beberapa kali saya terlibat kasus pembunuhan, sedang yang lainnya adalah kasus penganiayaan. Saya bisa bebas karena saya ‘main uang'.

Saya dulu berpikir kalau saya melakukan tindak kejahatan jangan tanggung-tanggung. Kalau saya mencuri mungkin saya tidak pernah akan ditakuti atau disegani oleh orang, tapi kalau saya membunuh maka orang akan tahu siapa saya, mereka akan takut pada saya.




Edhie Sapto juga tidak mengenal arti pertemanan.

Tahun 1983 saya mempunyai masalah dengan teman. Dia menjual barang saya, kemudian waktu saya meminta bagian saya, dia tidak memberikannya. Saya waktu itu sudah berpikir, jika hak saya tidak diberi maka orang itu akan saya ‘habisi'.

Waktu saya bertemu dengannya di Lampung, saya tanya pada teman saya itu tentang keadaannya. Saya juga tanya apakah ada ‘barang' yang akan masuk. Teman saya ini mengatakan, "Iya, ada barang yang akan masuk". Saya minta malam itu untuk bertemu dengannya sebelum dia mengambil ‘barang'. Saya berjanji bertemu dia jam delapan malam. Saya sendiri sudah merencanakan untuk membunuh dia. Saya pikir orang seperti ini tidak bisa dibiarkan, dia harus ‘dihabisi'.

Rekan Edhie tidak pernah menduga tentang malam itu.

Waktu malam dia datang. Dari jarak kira-kira sepuluh meter saya tanya pada dia, "Kamu sudah siap?". Waktu dia mengatakan ‘ya', saya langsung mengarahkan pistol dan menembaknya. Saya lalu memastikan tembakan saya dengan mengeksekusinya dari dekat.

Kembali Edhie harus berurusan dengan hukum.

Saya pikir saya bisa mengurus hukuman saya seperti yang biasa saya lakukan. Waktu itu saya minta tolong pada teman-teman untuk mengurus karena saya punya rumah, punya kendaraan yang bisa dijual. Ternyata waktu naik banding, mereka menjual rumah, menjual kendaraan saya tetapi mereka tidak mengurus saya. Uang saya habis dipakai judi oleh mereka. Waktu banding saya turun, hukuman saya malah naik menjadi sembilan tahun. Saya memang sudah putus asa saat itu. Tidak ada jalan lain ke mana saya akan meminta pertolongan.

Saya memang orang yang kadangkala merasa kesepian. Teman-teman saya sering menghindar karena saya orang yang keras. Saya orang yang tidak banyak bicara, yang bicara biasanya adalah tangan saya. Itulah sebabnya teman-teman menjauhi saya. Dan waktu saya kesepian saya kadang pergi ke ibadah gereja di dalam penjara.




Dalam satu ibadah Tuhan menjamah hati Edhie.

Tapi di saat saya putus asa, saya teringat satu ayat Firman Tuhan. Di sana dikatakan Yesus mengundang pada setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya untuk mendapatkan kelegaan. Hamba Tuhan mengatakan bahwa siapa saja datang pada Tuhan maka Dia akan tolong.

Waktu malamnya saya membaca Alkitab di sel penjara, saya menemukan bahwa ternyata ada seorang pribadi yang amat peduli pada saya. Walau orang tua, keluarga, teman-teman tidak peduli pada saya ternyata tetap ada pribadi yang peduli dan setia pada saya. Saya merasakan bahwa saya adalah manusia yang berdosa, saya membutuhkan pengampunan, saya merasakan bahwa Tuhan itu mengasihi saya.

Saya orangnya tidak suka menangis. Dipukul polisi, dipukul petugas sekalipun saya tidak pernah menangis. Tapi waktu malam itu saya menangis. Saya merasakan betapa Tuhan mengasihi saya. Hati saya hancur. Itulah yang membuat saya tidak bisa menyangkali Tuhan lagi. Saya harus menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya.

Edhie mengundang Tuhan masuk dalam hatinya.

Waktu itulah saya merasakan sukacita, saya merasakan damai sejahtera. Saya merasakan keyakinan bahwa jika saya bebas dari penjara, saya tidak perlu takut. Sekalipun ditembak penembak misterius saya tetap mempunyai jaminan keselamatan.

Edhie Sapto bebas pada 24 Agustus 1984 setelah menerima putusan kasasi. Ia menerima hukuman satu tahun dan enam bulan ditambah remisi 3 bulan karena telah menjadi seorang narapidana teladan. Setelah keluar dari penjara Edhie aktif dalam pelayanan ke berbagai daerah.

Rekan Edhie selama di penjara, Robby Pical terheran-heran dengan perubahan yang dialami Eddie, mantan pembunuh berdarah dingin yang dikenal dingin dan sadis.

Kami berdua sama-sama masuk dalam penjara Cipinang. Bapak Edhie Sapto adalah salah seorang penjahat berat dimana saya ditahan di seberang sel dia. Saya mengenal Edhie Sapto sebagai orang yang sadis, bertemperamen tinggi. Dia bisa membunuh setiap orang yang ‘mendekati' dia. Dia tidak pernah bisa didekati selama di penjara. Tapi ketika saya berjumpa kembali dengannya pada tahun 1984, saya melihat ada perubahan total dalam dirinya. Saya sampai bingung, "Kenapa Edhie Sapto bisa berubah begini? Edhie, kok kamu sekarang bisa lembut? Kok kamu sekarang bisa tersenyum? Dulu kamu tidak bisa tersenyum, dulu kamu tidak bisa mengedipkan mata pada orang lain?"

Edhie Sapto lalu berkata pada saya, "Hanya ada satu yang bisa mengubah saya yaitu waktu saya berjumpa dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang merubah karakter saya, Dia yang merangkul saya. Tuhan Yesus yang menjamah saya dan kini saya hidup baru bersama dengan Tuhan Yesus."





Edhie kini adalah seorang hamba Tuhan.

Orang mungkin tidak pernah mengenal saya. Orang mungkin hanya mengetahui saya dari luarnya saja. Mereka tidak tahu hati saya, seburuk apa hati saya, tetapi Tuhanlah yang menyelidiki hati. Saya boleh dijamah oleh tangan kasihNya, hidup saya boleh diubahkan, bahkan saya boleh diselamatkan. Saya hanya berfikir dengan apa saya bisa membalas kebaikan Tuhan, kecuali saya harus mengabdikan diri saya pada Tuhan.



Sumber Kesaksian :
Edhie Sapto

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 22.39


BUDHA MASUK KRISTEN (Athet Pyan Shinthaw Paulu - Mantan Rahib Budha di Myanmar)
Halo, nama saya Athet Pyan Shinthaw Paulu. Saya dari negara Myanmar. Saya ingin berbagi dengan anda kesaksian saya ini tentang apa yang terjadi pada saya, tetapi sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit latar belakang saya sejak saya kecil. Saya dilahirkan tahun 1958 di kota Bogale, di daerah delta Irrawaddy Myanmar selatan (dahulu Burma). Orang tua saya penganut agama Budha yang beriman (taat) seperti kebanyakan orang di Myanmar, memanggil saya si Thitphin (yg artinya pohon). Kehidupan di mana saya bertumbuh sangat sederhana.
Pada umur 13 tahun saya keluar sekolah dan mulai bekerja di perahu nelayan. Kami menangkap ikan juga udang di beberapa sungai besar dan kecil di daerah Irrawaddy. Pada umur 16 saya jadi pemimpin perahu. Saat itu saya tinggal di utara pulau Mainmahlagyon (Mainmahlagyon artinya pulau wanita cantik), di bagian utara Bogale dimana saya dilahirkan. Tempat ini kira kira 100 mil barat daya Yangoon (Rangoon) ibu kota negara kami. Suatu hari waktu saya berumur 17 tahun, kami menangkap banyak sekali ikan dalam jala kami. Saking banyaknya ikan yang kami tangkap, seekor buaya besar tertarik perhatiannya. Buaya itu mengikuti perahu kami dan mencoba menyerang kami. Kami jadi ketakutan sehingga dengan panik kami mendayung perahu kami menuju tepian sungai secepatnya. Buaya itu mengikuti kami dan menyerang perahu kami dengan ekornya.Walaupun tidak ada yang mati dalam kejadian ini, serangan itu mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak mau lagi menangkap ikan. Perahu kecil kami tenggelam kena serangan buaya itu. Malam itu kami pulang ke kampung naik perahu tumpangan. Tak lama sesudah itu, bos ayah saya memindahkan ayah saya ke kota Yangoon (sebelum disebut Rangoon). Pada umur 18 saya dikirim kesebuah biara menjadi Rahib muda. Kebanyakan orang tua di Myanmar berusaha mengirimkan anak laki-laki mereka ke biara Budha, setidaknya satu kali, karena merupakan suatu kehormatan mempunyai anak laki-laki melayani dengan cara ini. Kami telah mengikuti adat ini ratusan tahun. Seorang murid yang bersemangat Pada saat saya mencapai umur 19 tahun 3 bulan (thn 1977) saya jadi Rahib. Rahib atasan saya di biara itu memberi saya sebuah nama Budha baru yang sudah menjadi adat/kebiasaan di negara saya. Saya dipanggil U Nata Pannita Ashinthuriya. Pada waktu kami menjadi Rahib kami tidak lagi menggunakan nama yang diberikan orang tua pada waktu lahir. Biara tempat saya tinggal disebut Mandlay Kyaikasan Kyaing. Nama Rahib kepala ialah U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (U Zadila adalah gelar). Dia Rahib yang sangat terkenal di seluruh Myanmar pada waktu itu. Setiap orang tahu siapa dia. Dia sangat dihargai oleh orang-orang dan disegani sebagai guru besar. Saya katakan dulu karena pada tahun 1983 dia tiba-tiba mati dalam kecelakaan mobil yang fatal. Kematiannya mengejutkan semua orang. Saat itu saya sudah 6 tahun jadi Rahib. Saya berusaha jadi Rahib terbaik dan mengikuti semua ajaran Budha. Pada suatu tingkat tertentu saya pindah ke sebuah kuburan yang kemudian saya tinggali dan bermeditasi secara kontinyu. Beberapa Rahib yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran Budha melakukan hal yang saya lakukan ini. Beberapa bahkan pindah ke hutan dimana mereka hidup menyangkal diri dan miskin. Saya cari penyangkalan diri, fikiran dan keinginan, untuk menghindari penyakit dan penderitaan dan membebaskan diri dari kehidupan duniawi. Di kuburan saya tidak takut setan, saya berusaha untuk mencapai kadamaian batin dan sadar diri sampai sampai bila ada nyamuk hinggap ditangan saya membiarkannya menggigit tangan saya dari pada mengusirnya. Bertahun-tahun saya berusaha untuk jadi Rahib terbaik dan tidak menyakiti mahluk hidup. Saya belajar pelajaran Budha suci ini seperti semua nenek moyang kami lakukan sebelum saya. Kehidupan saya sebagai Rahib berjalan terus sampai suatu waktu saya menderita sakit keras. Saya ada di Mandalay waktu itu dan harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. Dokter melakukan beberapa pengecekan pada saya dan memberitahu saya bahwa saya terjangkit penyakit kuning dan malaria bersamaan. Sesudah sebulan di rumah sakit saya malah makin gawat. Dokter memberi tahu saya bahwa tak ada harapan sembuh untuk saya dan mengeluarkan saya dari rumah sakit untuk mempersiapkan kematian. Inilah penjelasan singkat masa lalu saya. Sekarang saya ingin menceritakan beberapa hal luar biasa yang terjadi pada diri saya sesudahnya. Penglihatan Yang Mengubah Hidup Saya Selamanya Sesudah saya dikeluarkan dari rumah sakit saya kembali ke tempat di mana para Rahib yang lain mengurus saya. Saya makin hari makin lemah dan makin susut karena badan busuk dan bau kematian, dan akhrinya jantung saya berhenti berdenyut. Tubuh saya dipersiapkan untuk kremasi dan melalui tata cara pemurnian agama Budha. Walaupun tubuh saya mati tapi saya ingat dan sadar dalam fikiran dan roh saya. Saya ada dalam badai besar. Angin kencang meniup seluruh daratan sampai tidak ada pohon atau apapun yang berdiri, semua rata, saya berjalan sangat cepat di jalan rata itu untuk beberapa lama. Tak ada orang lain, hanya saya sendiri, kemudian saya menyeberang sebuah sungai. Di seberang sungai itu saya melihat danau api yang sangat sangat besar. Dalam agama Budha kami tidak ada gambaran tempat seperti ini. Pada mulanya saya bingung dan tak tahu bahwa itu adalah neraka sampai saya lihat Yama, raja neraka (Yama adalah nama untuk raja neraka dalam kebudayaan Asia) mukanya seperti singa, badannya seperti singa , tetapi kakinya seperti seekor naga (roh naga). Dia mempunyai beberapa tanduk di kepalanya. Wajahnya sangat mengerikan dan saya sangat ketakutan. Dengan gemetar, saya tanya namanya. Dia jawab "Saya adalah raja neraka, si Perusak!" Danau Api Yang Sangat Mengerikan Raja neraka memberi tahu saya untuk melihat ke danau api itu. Saya memandang dan melihat jubah warna kunyit yang biasa dipakai rahib Budha di Myanmar. Saya memandang dan melihat kepala gundul seorang laki-laki. Waktu saya lihat wajah orang itu saya mengenalinya sebagai U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (rahib terkenal yang mati kecelakaan mobil tahun 1983). Saya tanya raja neraka mengapa pemimpin saya, diikat dalam danau penyiksaan ini. Saya tanya "Mengapa dia ada dalam danau api ini? Dia seorang guru yang baik." Dia bahkan mempunyai kaset pengajaran yang berjudul 'Apakah anda manusia atau anjing?' Yang sudah membantu ribuan orang mengerti bahwa sebagai manusia sangat berharga jauh dibandingkan binatang. Raja neraka itu menjawab, "Betul, dia seorang guru yang baik, tetapi dia tidak percaya pada Yesus Kristus. Itulah sebabnya dia ada di neraka." Saya diberi tahu untuk melihat orang lain yang ada di dalam api itu. Saya lihat seorang laki-laki dengan rambut panjang dililitkan dibagian kiri kepalanya. Dia juga mengenakan jubah. Saya tanya raja neraka "Siapa orang itu?" Dia menjawab, "Inilah yang kau sembah, Gautama (Budha)". Saya sangat terganggu melihat Gautama di neraka. Saya protes, "Gautama orang baik, mempunyai karakter moral yang baik, mengapa dia menderita di dalam danau api ini?" Raja neraka menjawab saya "Tak peduli bagaimana baiknya dia. Ia ada di tempat ini karena dia tidak percaya pada Allah yang kekal" Saya kemudian melihat seorang yang lain yang tampaknya memakai seragam tentara. Dia terluka di dada-nya. Saya tanya "Siapa dia?" Raja neraka berkata "Ini Aung San, pemimpin revolusi Myanmar ". Saya kemudian diberi tahu, "Aung San di sini karena dia menyiksa dan membunuh orang-orang Kristen, tapi terutama karena dia tidak percaya Yesus Kristus." Di Myanmar ada pepatah, "Tentara tak pernah mati, hidup terus." Saya diberitahu bahwa tentara neraka mempunyai pepatah "Tentara tak pernah mati, tapi ke neraka selamanya." Saya amati dan melihat orang lain didanau api itu. Dia orang yang sangat tinggi dan memakai baju baja militer. Dia juga menyandang pedang dan perisai. Orang ini terluka di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun yang pernah saya lihat. Saya kemudian diberi tahu, "Aung San di sini karena dia menyiksa dan membunuh orang-orang Kristen, tapi terutama karena dia tidak percaya Yesus Kristus." Di Myanmar ada pepatah, "Tentara tak pernah mati, hidup terus." Saya diberitahu bahwa tentara neraka mempunyai pepatah "Tentara tak pernah mati, tapi ke neraka selamanya." Saya amati dan melihat orang lain didanau api itu. Dia orang yang sangat tinggi dan memakai baju baja militer. Dia juga menyandang pedang dan perisai. Orang ini terluka di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun yang pernah saya lihat. Saya bingung karena saya tidak tahu siapa itu Goliath dan Daud. Raja neraka berkata, "Goliath tercatat di Alkitab orang Kristen. Kamu tidak tahu dia sekarang, tapi kalau kamu jadi Kristen, kamu akan tahu siapa dia. Saya dibawa ke sebuah tempat di mana saya lihat orang kaya dan miskin menyiapkan makan malam mereka. Saya tanya "siapa yang memasak makanan untuk orang-orang itu?" Raja itu menjawab "Yang miskin harus menyiapkan makanan mereka, tapi yang kaya menyuruh yang lain untuk memasak untuk mereka." Ketika makanan sudah tersedia untuk yang kaya, mereka duduk untuk makan. Segera setelah mereka mulai makan asap tebal keluar. Yang kaya makan secepat sebisa mereka agar mereka tidak pingsan. Mereka berusaha keras untuk dapat bernafas karena asap itu. Mereka harus makan cepat-cepat karena mereka takut kehilangan uang mereka. Uang mereka adalah tuhan mereka. Seorang raja yang lain kemudian datang pada saya. Saya juga melihat satu mahluk yang kerjanya menjaga api di bawah danau api agar tetap panas. Mahluk ini bertanya pada saya "Apa kamu juga akan masuk ke danau api ini?" Saya jawab, "Tidak! saya di sini untuk hanya mengamati!" Bentuk mahluk yang menjaga api itu sangat menakutkan. Dia punya 10 tanduk dikepalanya dan sebatang tombak di tangannya yang pada ujungnya ada 7 pisau tajam. Mahluk ini berkata "Kamu betul, kamu datang ke sini hanya untuk mengamati. Saya tak temukan namamu disini". Katanya "Kamu harus kembali dari mana kamu datang tadi" Dia menunjukan arah pada saya tempat terpencil rata yang saya lewati sebelumnya waktu datang ke danau api ini. Keputusan Untuk Memilih Jalan Saya jalan cukup lama, sampai saya berdarah. Saya sangat kepanasan dan kesakitan. Akhirnya setelah berjalan sekitar 3 jam saya sampai di sebuah jalan yang lebar. Saya berjalan sepanjang jalan ini beberapa lama sampai menemukan persimpangan. Satu jalan arah kiri, lebar. Jalan yang lebih kecil menuju ke sebelah kanan. Ada tanda disimpang itu yang berbunyi jalan kiri untuk mereka yang tidak percaya pada Tuhan Yesus Kristus, jalan yang lebih kecil menuju ke kanan untuk yang percaya Yesus. Saya tertarik melihat ke mana tujuan jalan yang lebih besar itu, jadi saya mulai melaluinya.Ada 2 orang berjalan kira-kira 300 yard di depan saya. Saya coba mengejar mereka agar dapat jalan bersama, tetapi sekerasnya saya coba tak dapat mengejar mereka, jadi saya putar balik dan kembali ke simpang jalan tadi. Saya terus perhatikan kedua orang yang berjalan tadi. Waktu mereka mencapai ujung jalan tiba-tiba mereka ditikam. Kedua orang itu berteriak sangat kesakitan. Saya juga menjerit keras waktu melihat apa yang terjadi pada mereka Saya sadar akhir dari jalan yang lebih lebar sangat berbahaya untuk mereka yang menjalaninya. Melihat Surga Saya mulai melangkah ke jalan Orang Percaya. Sesudah berjalan sekitar 1 jam, permukaan jalan berubah jadi emas murni. Sungguh murni sampai-sampai waktu saya lihat kebawah saya dapat melihat bayangan saya dengan sempurna. Kemudian saya lihat seseorang berdiri di depan saya. Dia memakai jubah putih. Saya juga mendengar nyanyian merdu. Oh, alangkah indah dan murninya! Sangat jauh lebih baik dan berarti dibandingkan penyembahan yang kita dengar di gereja manapun di dunia. Orang berjubah tersebut meminta saya berjalan bersamanya. Saya bertanya padanya, "Siapakah namamu?" tetapi dia tidak menjawabnya. Baru sesudah saya tanya dia 6 kali orang itu menjawab, "Saya yang memegang kunci ke surga. Surga tempat yang sangat sangat indah. Kamu tak dapat pergi ke sana sekarang tetapi kalau kamu mengikuti Yesus Kristus kamu dapat pergi ke sana sesudah hidupmu selesai di bumi". Orang itu bernama Petrus. Petrus kemudian meminta saya untuk duduk dan menunjukkan pada saya sebuah tempat di sebelah utara. Petrus berkata, "Lihat ke utara dan lihatlah Allah menciptakan manusia". Saya melihat Allah kekal di kejauhan. Allah berkata pada seorang malaikat, "Mari kita ciptakan manusia." Malaikat itu memohon pada Allah dan berkata, "Jangan menciptakan manusia. Dia akan berbuat dosa dan mendukakan Engkau." (dalam bahasa asli Burma berarti: "Dia akan mempermalukan Engkau") Tetapi Allah tetap menciptakan manusia. Allah meniupkan nafasNya dan manusia itu hidup. Dia memberi nama orang itu "Adam". (catatan: agama Budha tidak percaya penciptaan dunia atau manusia sehingga pengalaman ini sangat besar pengaruhnya pada rahib itu). Dikembalikan Dengan Nama Baru Kemudian Petrus berkata, "Sekarang bangunlah dan kembalilah melalui jalan di mana engkau datang. Katakan pada orang-orang yang menyembah Budha dan menyembah berhala. Beri tahu mereka bahwa mereka akan pergi ke neraka bila mereka tidak berubah. Mereka yang membangun kuil/kelenteng dan berhala juga akan ke neraka. Mereka yang yang memberikan persembahan pada para rahib untuk mendapatkan jasa untuk mereka sendiri juga akan ke neraka. Mereka yang menyembah rahib dan memanggil mereka "Pra" (gelar kehormatan bagi rahib) akan ke neraka. Mereka yang menyanyi dan memberikan hidupnya untuk berhala akan ke neraka. Mereka yang tidak percaya Yesus Kristus akan ke neraka. Petrus memberi tahu saya untuk kembali ke bumi dan bersaksi tentang semua apa yang telah saya lihat. Dia juga berkata, 'Kamu harus bicara dengan nama yang baru. Sejak saat ini kamu harus dipanggil Athet Pyan Shinthaw Paulu (Paulus yang kembali hidup). Saya tidak mau kembali. Saya ingin tinggal di surga. Seorang kemudian malaikat membuka sebuah buku. Pertama-tama mereka mencari nama masa kecilku (Thitpin) dalam buku, tapi mereka tak menemukannya. Kemudian mereka mencari nama yang diberikan pada saya waktu masuk agama Budha (U Nata Pannita Ashinthuriya), tapi juga tidak tertulis disitu. Kemudian Petrus berkata, "Namamu tidak tertulis di sini, kamu harus kembali dan bersaksi tentang Yesus pada orang-orang yang beragama Budha." Saya berjalan kembali melalui jalan emas. Saya dengar lagi nyanyian yang merdu, yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Petrus berjalan dengan saya sampai saatnya saya kembali ke bumi. Dia menunjukkan pada saya tangga untuk kembali ke bumi antara surga dan langit. Tangga itu tidak sampai ke bumi, tetapi berhenti di udara. Pada saat di tangga saya lihat banyak sekali malaikat, ada yang naik ke surga dan ada yang turun ke tangga. Mereka sangat sibuk. Saya tanya Petrus, "Siapakah mereka?". Peter menjawab, "Mereka pesuruh Tuhan. Mereka melaporkan ke surga nama-nama mereka yang percaya Yesus Kristus dan nama-nama mereka yang tidak percaya." Peter kemudian memberi tahu saya, sudah waktunya untuk kembali. Tiba-tiba saya mendengar sebuah tangisan. Saya dengar ibu saya sedang menangis, "Anakku, mengapa engkau meninggalkan kami sekarang?" Saya juga mendengar orang-orang lain menangis. Saya kemudian sadar saya sedang terbujur dalam sebuah peti. Saya mulai bergerak. Ibu dan ayahku berteriak, "Dia hidup, dia hidup!" Orang lain yang agak jauh tidak percaya. Kemudian saya taruh tangan saya di kedua sisi peti itu dan duduk tegak. Banyak orang ketakutan. Mereka menjerit, "Hantu!" dan berlari secepat kaki mereka membawanya. Mereka yang tertinggal, diam dan bergemetaran. Saya merasakan saya sedang duduk dalam cairan yang tak sedap baunya, cairan tubuh, cukup banyak untuk dapat mengisi 3,5 gelas. Itu adalah cairan yang keluar dari perut dan bagian dalam tubuhku ketika tubuhku terbujur di dalam peti mati. Inilah sebabnya orang tahu bahwa saya sudah betul-betul mati. Di dalam peti mati ini ada semacam lembaran plastik yang ditempelkan pada kayu peti. Lembaran plastik ini untuk menampung cairan yang keluar dari mayat, karena tubuh orang meninggal banyak mengeluarkan cairan seperti yang saya alami. Saya diberi tahu kemudian bahwa hanya beberapa saat lagi saya dikremasi dalam api. Di Myanmar orang mati dimasukan kedalam peti mati, tutupnya kemudian dipaku, dan kemudian dibakar. Ketika saya kembali hidup, ibu dan ayahku sedang melihat tubuhku untuk terakhir kalinya. Sesaat lagi tutup peti akan segera dipaku dan saya akan dikremasikan. Saya segera mulai menjelaskan hal-hal yang saya lihat dan dengar. Orang-orang merasa heran. Saya ceritakan orang-orang yang saya lihat di dalam danau api itu, dan memberi tahu hanya orang Kristen yang tahu kebenaran, bahwa nenek moyang kita dan kita sudah tertipu ribuan tahun! Saya beri tahu mereka segala sesuatu yang kita percayai adalah kebohongan. Orang-orang merasa heran sebab mereka tahu rahib macam apa saya dan bagaimana bersemangatnya saya dalam pengajaran Budha. Di Myanmar ketika seseorang meninggal, namanya dan umurnya ditulis disamping peti mati. Ketika seorang rahib meninggal, namanya, umurnya dan masa pelayanannya sebagai rahib dituliskan di samping peti mati. Saya sudah ditulis mati tetapi seperti yang anda lihat, sekarang saya hidup! --------------------------------------------------------------------------------- (Penutup) Sejak "Paul yang kembali hidup" mengalami kisah di atas dia tetap menjadi saksi yang setia kepada Yesus Kristus. Para Gembala di Burma mengabarkan bahwa dia sudah membawa ratusan rahib lain untuk beriman kepada Yesus. Kesaksiannya jelas sekali tak berkompromi. Oleh sebab itu, pesan dia telah menyakitkan banyak orang yang tidak dapat menerima hanya ada satu jalan ke surga, Yesus Kristus. Walaupun menghadapi penolakan yang sangat besar, pengalamannya sungguh nyata sehingga ia pernah ragu maupun bimbang. Setelah sekian tahun dalam lingkungan biara Budha, sebagai pengikut ajaran Budha yang setia, beralih menyatakan Injil Kristus sesudah kebangkitannya dari mati dan mendesak rahib yang lain untuk meninggalkan semua dewa-dewa palsu dan menjadi pengikut Yesus dengan sepenuh hati. Sebelum sakit dan matinya dia tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang ke-Kristenan. Semua yang dia dapatkan selama 3 hari dalam kematian adalah baru dalam fikirannya. Dalam mengabarkan pesannya sebanyak mungkin pada orang-orang. Lazarus modern ini mulai membagikan audio dan video kaset mengenai kisahnya. Polisi serta pihak berwenang di Myanmar sudah berusaha sekuatnya untuk mengumpulkan kaset-kaset ini dan memusnahkannya. Kesaksian yang baru saja anda baca adalah salah satu terjemahan dari kaset itu. Kami diberi tahu bahwa sekarang sangat berbahaya bagi warga Myanmar untuk memiliki kaset ini. Kesaksiannya yang tak kenal takut telah membuatnya dipenjara, di mana yang berwenang telah gagal menawarkan dia untuk bungkam. Sesudah dilepaskan dia terus bersaksi tentang apa yang dia lihat dan dengar. Keberadaannya sekarang tidak jelas. Seorang nara sumber di Burma mengatakan bahwa dia di penjara dan bahkan mungkin sudah dibunuh, sumber lain mengabarkan bahwa dia sudah dilepaskan dari penjara dan sedang meneruskan pelayanannya.

Prof Dr JE Sahetapy-Pejuang Nurani Hukum

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 19.46



Kisah Prof. Dr. J.E. Sahetapy: Kesederhanaan, kejujuran dan keteladanannya membuat apa yang dikatakannya menjadi lebih bernilai dan berbobot serta rasa kebenarannya menjadi sangat nyata. Beliau lahir di Saparua, Maluku, 6 Juni 1932. Ayahnya seorang guru dan ibunya seorang guru juga.

Tapi ketika masih kecil, Sahetapy sudah harus menghadapi masalah pelik. Kedua orang tua yang dicintainya harus berpisah. Pasalnya, ayahnya suka main judi, ibunya minta cerai akibat tidak tahan menanggung beban. Kemudian sang ibu, Nona C.A. Tomasowa, menikah lagi dengan W.A. Lokollo setelah berpisah ± 12 tahun dengan suaminya. Namun demikian, Sahetapy kecil selalu rajin belajar. Ia memulai pendidikan formalnya di sekolah dasar yang didirikan ibunya sendiri yakni Particuliere Saparuasche School. Dari ibunya yang sekaligus gurunya itulah Sahetapy banyak belajar nasionalisme dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Tapi akibat meletusnya perang pada tahun 1942, sekolahnya sempat terputus menjelang akhir kelulusannya. Empat tahun berikutnya, 1947, barulah ia kembali ke sekolah sampai lulus Sekolah Dasar. Lalu ia pun masuk SM dengan kurikulum 4 tahun. Menjelang lulus, peristiwa RMS (Republik Maluku Selatan) meledak. Akhirnya Sahetapy pindah ke Surabaya, bergabung dengan kakaknya, A.J. Tuhusula-Sahetapy. Di kota Pahlawan itulah ia menamatkan SMA.

Setamat SMA, sebenarnya ia tertarik masuk Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN). Namun ibunya tidak sependapat. Selain itu, ada pula yang menawarinya masuk sekolah pendeta, tapi ibu pun tidak setuju. Akhirnya, ia masuk Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada di Surabaya (yang kemudian menjadi Fakultas Hukum Universitas Airlangga).

Semasa kuliah, Sahetapy termasuk mahasiswa yang cerdas. Ia juga menguasai bahasa Belanda. Tak heran bila kemudian ia dipercaya menjadi asisten dosen untuk matakuliah hukum perdata di fakultasnya. Kepercayaan dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga ketika itu Profesor Gondo-wardoyo, tidak hanya sampai di situ. Bahkan begitu Sahetapy lulus kuliah, ia ditawari kuliah di Amerika Serikat. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Ia pun menyelesaikan studinya di AS dalam dua tahun dan segera balik ke Indonesia.

Suami Lestari Rahayu ini dikenal sangat kritis. Baik semasa berprofesi dosen dan birokrat maupun saat menjadi anggota legislatif. Kritik-kritiknya tajam dan keras. Ia pun dikenal sebagai seorang yang sungguh bersahaja dalam hidup sehari-harinya. Ia tinggal di sebuah rumah di kompleks perumahan dosen Universitas Airlangga, Jalan Darmahusada III. Rumah itu sendiri jauh dari kesan mewah. Perabotannya biasa saja. Misalnya, sofa di ruang tamunya bukanlah dari jenis sofa berharga ratusan ribu rupiah. Sehari-hari, untuk mendukung kegiatannya, ia mengendarai mobil Kijang.

Kesederhanaan ini tidak berubah saat ia menjadi anggota DPR dari PDIP pada zaman reformasi yang masih kental praktek korupsi ini. Saat beberapa rekannya, setelah menjadi anggota DPR, tiba-tiba menjadi mewah dengan mobil-mobil mewah. Sahetapy justru masih kerap jalan kaki dari tempat tinggalnya, sekitar satu setengah kilometer dari Gedung DPR.

Ia berharap semoga para politisi bermoral dan santun meskipun dalam jumlah kecil dewasa ini, tetap terpanggil akan gejolak hati nuraninya. Semua hendaknya benar-benar sadar, "The things that will destroy us are: politics without principle, pleasure without conscience, wealth without work, knowledge without character, business without morality, science without humanity, and worship without sacrifice". Tidaklah berkelebihan kalau dikatakan lagi bahwa politik tanpa moral atau etika akan menjerumuskan bangsa ini.





~ Jawaban.com ~

Orang Desa - Go International

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 18.59



Kiprahnya dalam pengembangan teknologi informasi dan telekomunikasi di Indonesia, tak dapat dilupakan. Kebesaran PT Indosat tidak dapat dilepaskan dari sentuhan tangan dingin yang dilandasi ketajaman visi dan prediksinya ke depan. Ia, Jonathan Parapak, taruk yang bersemi dari Tana Toraja, pembelajar dan pelayan telematika Indonesia.

Sejak awal Jonathan Parapak menyadari bahwa kemajuan teknologi informasi tidak hanya mempermudah komunikasi serta mempercepat penyebaran informasi, melainkan juga memiliki nilai strategis secara ekonomis dan politis. Lancarnya komunikasi dan informasi yang tidak lagi dibatasi oleh faktor geografis, memiliki sumbangan besar dalam mempersatukan bangsa. Visi itulah yang telah memotivasi Parapak untuk bekerja tak kenal lelah mengembangkan dunia informasi dan telekomunikasi demi bangsanya.

Ia memang seorang yang rendah hati. Sebagaimana dituturkan Radius Prawiro, Jonathan Parapak adalah sosok ideal seorang intelektual sejati sekaligus pekerja profesional yang tangguh. Ia seorang pembelajar sekaligus juga seorang pelayan. Ia berusaha membelajarkan masyarakat, namun tidak kehilangan minatnya untuk senantiasa belajar. Dengan penuh semangat, ia selalu membuka diri terhadap teknologi baru. Karyanya selama lebih dari sepuluh tahun sebagai Presiden Direktur PT Indosat, diakui, bukan saja oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh dunia.

Ia telah berhasil membuktikan komitmennya sebagai seorang pembelajar dan pelayan, baik dalam kapasitasnya sebagai manajer profesional dalam dunia usaha, maupun sebagai birokrat dalam pemerintahan. Melalui berbagai seminar dan ceramah-ceramah yang diberikannya ia berusaha membentuk kader-kader bangsa dan kader-kader Gereja yang visioner serta sadar akan misi lebih luas yang diembannya. Jauh dari rasa gamang, ia menatap jauh menuju masa depan bangsa Indonesia modern yang memiliki cakrawala lebih luas. Hal tersebut tidak hanya dilakukan di kalangan profesional, melainkan juga bagi masyarakat luas.

Ia pula salah satu pemula konsep pembangunan Telematika di Indonesia, dan menjadi pimpinan berbagai kelompok yang sangat peduli dengan peran telematika dalam mewujudkan knowledge based society di Indonesia. Sebagai pelaku teknologi pada berbagai tataran, baik tingkat kebijaksanaan maupun regulasi operasi dan industri, Parapak telah memberikan berbagai gagasan segar dan baru, bagaimana memanfaatkan dan mengembangkan teknologi untuk kesejahteraan manusia. Ia telah berperan dalam reformasi sektor telekomunikasi di Indonesia. Ia juga telah membuktikan bahwa putra-putri Indonesia tidak kalah dari bangsa manapun di dunia ini dalam pengelolaan bisnis berteknologi tinggi. Parapak telah membuktikan bagaimana mengelola usaha bisnis berteknologi canggih secara profesional, bersih, dan menghasilkan kinerja yang baik.


Peran di Masyarakat
Kalau mau disebutkan satu per satu kegiatan dan peran Jonathan Parapak dalam bidang keagamaan maupun sosial, mungkin harus dibuat satu buku tersendiri. Ia ikut aktif mendirikan lembaga pendidikan, pemberdayaan, dan pelayanan masyarakat, organisasi kemasyarakatan atau lembaga yang berkaitan dengan kegiatan pelayanan Gereja.

Parapak merupakan pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pelayanan Mahasiswa, Perkantas. Ia menjadi pemrakarsa, salah satu pendiri, bahkan menjadi Ketua Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi dan Informatika. Ia pun pemrakarsa, salah satu pendiri bahkan menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Teknik Indonesia yang juga menyelenggarakan beasiswa untuk telekomunikasi dan informatika. Demikian juga pemrakarsa, pendiri dan Ketua Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telematika dan Informatika. Ia salah satu pendiri dan Ketua Yayasan Bina Insan Pembangunan untuk beasiswa.

Di bidang kegiatan dan pelayanan Gerejani, ia juga memrakarsai beberapa yayasan, antara lain ia adalah sa1ah satu pendiri dan Ketua Yayasan Damai Sejahtera untuk Pelayanan dan Kesaksian, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pembaca Alkitab. Ia Ketua Dewan Penasihat PIKI (Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia), Ketua Dewan Penyantun STT Jakarta, Ketua Dewan Penyantun STT Rantepao.

Sedangkan di berbagai lembaga kedaerahan ia selalu diminta untuk berperan maksimal, dan peran itu dia terima meskipun kesibukannya sela1u penuh. Ia selalu berusaha memegang prinsip dan pedoman hidupnya: mengabdi adalah memberikan yang terbaik. Masih banyak lembaga yang meminta partisipasi dan perannya.

Satu hal yang perlu digarisbawahi tentang Parapak, yakni kemampuannya mengatur waktu sehingga pelayanan, pertisipasi dan bahkan kepemimpinannya dalam berbagai organaisasi atau lembaga selalu maksimal. Itu sebabnya ia merasa heran kalau ada orang yang menolak pelayanan atau tugas dengan alasan sibuk. Ia memang telah membuktikan dirinya sebagai sosok yang mampu melakukan penatalayanan waktu yang diberikan Tuhan kepadanya secara bertanggung jawab.

Nathan tidak hanya berhasil menuntut ilmu di Negeri Kanguru, tapi ternyata juga akhirnya ia mempersunting gadis dari Australia. Menurut penuturannya, ia berkenalan dengan Anne Atkinson melalui persekutuan Kristen di Universitas Tasmania. Mereka bersama melayani sebagai pengurus di kampus dan dalam pelayanan lainnya.

Bibit perkenalan di Australia itu berkembang menjadi cinta. Yaitu setelah beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1970, Anne bertugas sebagai sukarelawati ke Indonesia, dan menjadi dosen sastra Inggris di Universitas Padjadjaran Bandung. Akhirnya mereka menikah 4 Desember 1971, setelah Anne merasa dapat tinggal di Indonesia. Perkawinan itu dikaruniai tiga anak, semuanya perempuan, yaitu Esther, Lise, dan Kathryn. Semua anak sudah menikah.

Parapak bangga dengan isterinya yang dapat menyesuaikan diri dengan begitu hebat. Termasuk menjadi Ketua Dharma Wanita waktu ia menjadi Dirut Indosat dan Sekjen Depparpostel karena menterinya tak punya isteri.

Latar belakangnya sebagai orang desa yang akhirnya mengarungi dunia intemasional, tidak membuatnya lupa akan keakrabannya dengan alam, sesama maupun Tuhannya. Bahkan, semua pengalaman dan pemahaman itu membuatnya menjadi manusia yang berimbang. Ia mampu membangun sikap yang seimbang terhadap alam dan teknologi, terhadap sesama manusia dan terhadap Tuhan Allahnya.




Small opportunities are often the beginning of great enterprises.
Demosthenes

~ Jawaban.com ~

Ir.CIPUTRA

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 18.57


Ketika mula didirikan, PT Pembangunan Jaya cuma dikelola oleh lima orang. Kantornya menumpang di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta Raya. Kini, 20-an tahun kemudian, Pembangunan Jaya Group memiliki sedikitnya 20 anak perusahaan dengan 14.000 karyawan. Namun, Ir. Ciputra, sang pendiri, belum merasa sukses. ''Kalau sudah merasa berhasil, biasanya kreativitas akan mandek,'' kata Dirut PT Pembangunan Jaya itu.


Ciputra memang hampir tidak pernah mandek. Untuk melengkapi 11 unit fasilitas hiburan Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta -- proyek usaha Jaya Group yang cukup menguntungkan -- telah dibangun ''Taman Impian Dunia''. Di dalamnya termasuk ''Dunia Fantasi'', ''Dunia Dongeng'', ''Dunia Sejarah'', ''Dunia Petualangan'', dan ''Dunia Harapan''. Sekitar 137 ha areal TIJA yang tersedia, karenanya, dinilai tidak memadai lagi. Sehingga, melalui pengurukan laut (reklamasi) diharapkan dapat memperpanjang garis pantai Ancol dari 3,5 km menjadi 10,5 km.

Masa kanak Ciputra sendiri cukup sengsara. Lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah, ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Dari usia enam sampai delapan tahun, Ci diasuh oleh tante-tantenya yang ''bengis''. Ia selalu kebagian pekerjaan yang berat atau menjijikkan, misalnya membersihkan tempat ludah. Tetapi, tiba menikmati es gundul (hancuran es diberi sirop), tante-tantenyalah yang lebih dahulu mengecap rasa manisnya. Belakangan, ia menilainya sebagai hikmah tersembunyi. ''Justru karena asuhan yang keras itu, jiwa dan pribadi saya seperti digembleng,'' kata Ciputra.

Pada usia 12 tahun, Ciputra menjadi yatim. Oleh tentara pendudukan Jepang, ayahnya, Tjie Siem Poe, dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan meninggal dalam penjara. ''Lambaian tangan Ayah masih terbayang di pelupuk mata, dan jerit Ibu tetap terngiang di telinga,'' tuturnya sendu. Sejak itu, ibunyalah yang mengasuhnya penuh kasih. Sejak itu pula Ci harus bangun pagi- pagi untuk mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah -- dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Mereka hidup dari penjualan kue ibunya.

Atas jerih payah ibunya, Ciputra berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur. Pada tingkat IV, ia, bersama dua temannya, mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan -- berkantor di sebuah garasi. Saat itu, ia sudah menikahi Dian Sumeler, yang dikenalnya ketika masih sekolah SMA di Manado. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur, 1960, mereka pindah ke Jakarta, tepatnya di Kebayoran Baru. ''Kami belum punya rumah. Kami berpindah-pindah dari losmen ke losmen,'' tutur Nyonya Dian, ibu empat anak. Tetapi dari sinilah awal sukses Ciputra.

Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Namun dengan prinsip hidup yang kuat Ciputra mampu melewati masa itu dengan baik. Ciputra selalu berprinsip bahwa jika kita bekerja keras dan berbuat dengan benar, Tuhan pasti buka jalan. Dan banyak mukjizat terjadi, seperti adanya kebijakan moneter dari pemerintah, diskon bunga dari beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya ketiga group tersebut dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri.

Ciputra telah sukses melampaui semua orde; orde lama, orde baru, maupun orde reformasi. Dia sukses membawa perusahaan daerah maju, membawa perusahaan sesama koleganya maju, dan akhirnya juga membawa perusahaan keluarganya sendiri maju. Dia sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Memang, dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia adalah yang TERBAIK di bidangnya: realestate.

Pada usianya yang ke-75, ketika akhirnya dia harus memikirkan pengabdian masyarakat apa yang akan ia kembangkan, dia memilih bidang pendidikan. Kemudian didirikanlah sekolah dan universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa. Sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Ciputra ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha.



The pessimist sees difficulty in every opportunity.
The optimist sees the opportunity in every difficulty.
Winston Churchill
~ Jawaban.com ~

EDWARD CHEN - Roadmap to Success

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 18.54

Kisah Edward Chen: Seorang penyanyi rohani yang cukup memfokuskan dirinya didalam genre musik rohani mandarin, yang merupakan salah satu genre musik rohani yang kurang begitu diperhitungkan.Walaupun demikian, sebagai pendatang baru, album pertama yang di-release oleh Edward Chen dengan bahasa mandarin berhasil menembus angka penjualan sebesar 80.000 kopi. Sepanjang sejarah musik rohani di Indonesia, Edward Chen berhasil mencatat rekor penjualan album perdana terbanyak sebagai pendatang baru. Album perdana Edward Chen tidak hanya mendapatkan kesuksesan dalam segi penjualan saja, tetapi atas kasih karunia Tuhan, banyak orang-orang yang merasa dikuatkan, diberkati, dan bahkan yang belum mengenal Yesus dapat terjamah dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat melalui album perdananya.
Sampai saat ini, semua album Mandarin dan Indonesia yang telah di-release oleh Edward Chen boleh dikatakan sangat sukses, karena mendapatkan respon yang baik dari setiap pendengar. Album-album tersebut juga telah diputar di berbagai radio sekuler dan gospel di Indonesia, serta diputarkan didalam event-event di Mall dan Cafe kota-kota untuk meramaikan suasana. Bahkan Video Clip yang diambil dari Praise and Worship Mandarin (PW Mandarin) Edward Chen 1 dan album All About Love menjadi koleksi MTV Asia dan TV Local baik secara daerah maupun nasional. Kiprahnya didunia musk rohani sudah tak dapat diragukan lagi, karena telah mengeluarkan beberapa album solo yang semuanya menjadi best-seller.

Edward Chen sering terlibat dalam pembuatan album-album rohani lainnya dan juga memiliki peran besar dalam konser-konser seperti Tour Konser 8 Kota, Jeffry S. Tjandra; Konser IPWS di Malang bersama YouthLive Hillsong, Riverview Church (Australia), Adon "Base Jam", Eka Deli, Franky Sihombing, Bobby "OW"; Konser HELO Indonesia di Istora Senayan bersama Once "Dewa", Judika "Idol", Lita Zein, SPARX, Jacklien Cellose. Edward Chen pernah mengisi acara Live TV Borobudur Semarang bersama Grace Simon, Utha Likumahua, dan Eka Deli. Selain terlibat dalam pelayanan ke berbagai kota diIndonesia, Edward Chen yang kerap kali dipanggil EC juga sempat melayani di manca negara; diantaranya, EC beberapa kali hilir mudik mengisi dunia hiburan rohani di Malaysia dan Singapura, EC juga menyempatkan diri untuk melayani di Beijing, kota dimana ia pernah menuntut ilmu dan belajar bahasa favoritnya.

Selain di dunia rohani, EC juga tak mau ketinggalan untuk ikut meramaikan dunia hiburan tanah air dengan album sekuler pertamanya yang berjudul All About Love. Kesuksesannya pun semakin berkembang dan menjadikannya salah satu bintang tamu di acara televisi ANTV Oriental Night edisi Valentine 2004 lalu bersama Katon Bagaskara, Dea Mirella, Tere, Alena dan Ronny Sianturi. Pada tanggal 19-23 Februari 2005 EC dipercaya untuk mengisi acara bersama artis Taiwan dan artis nasional di Vietnam. Dengan acara tersebut maka secara tidak langsung EC telah mensejajarkan namanya dengan artis top Taiwan seperti TORO, F4, 5566, Leon Lai (Hongkong) dan Andy Lau yang juga pernah mengisi acara tersebut. Tidak hanya di Asia tapi juga antar benua, di Negara Paman Sam, Amerika Serikat untuk rangkaian tour konser pada perayaan thanks giving di California, New York, Houston, Austin, Oklahoma, San Fransisco. EC juga pernah ke Australia bersama Pdt. Gilbert Lumoindong untuk mengikuti KKR di Sydney & Perth. Sampai saat ini EC masih berkiprah didunia musik dengan menawarkan album-album terbarunya dan video-video clip untuk memantapkan namanya didunia musik Indonesia dan manca negara.



~ Jawaban.com ~

Sydney Mohede - Promosi Datang Dari TUHAN

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 18.52

Sidney punya prinsip memberi yang terbaik dan Tuhan sendiri akan membuka jalan-jalan-Nya. Istilah yang kerap dipakaiya, promosi adalah datangnya dari Tuhan. Ia juga tidak pernah setuju tentang pendapat banyak orang yang mengatakan bekerja selayaknya sesuai honor atau gaji yang diterima saja.

"Saya pernah dengar begini, kalau saya dapat gaji lima juta, saya baru akan bekerja keras. Kenapa nggak berpikir, saya akan beri yang terbaik bagi pekerjaan saya, soal penghasilan pasti mengikuti. Saya percaya dengan firman Tuhan, bila kita setia dengan perkara kecil Tuhan akan mempercayakan perkara besar," tuturnya bijak.

Bulan Mei, 1995 Sidney datang ke Indonesia dari Amerika. Ia ke Jakarta tanpa kenal satu orang pun dengan tujuan yang menurut manusia pada umumnya. "tidak jelas". Pokoknya melayani Tuhan, begitu tekadnya.

"Saya tidak punya saudara di Jakarta, semua ada di Menado. Jadi, saya benar-benar merasa asing. Namun saya percaya Tuhan pasti buka jalan. Dua hari di Jakarta, teman saya orang Indonesia yang tinggal di Amerika menikah di JHCC. Saya datang dan menyanyi. Di sanalah saya kenal musisi Erwin Badudu, Franky Sihombing, Amos Cahyadi, dan Sari Simorangkir" kisahnya takjub.

Satu persatu jalan di buka Tuhan untuk Sidney. Melalui acara HUT RI ke 50 dengan "tema Jakarta Bersyukur" di Istora Senayan, masyarakat Kristen melihat dan mendengar suara emas ‘penyanyi rohani' baru bernama Sidney Mohede. Lalu disusul konser GMB pertama di Pecenongan, Jakarta yang dipenuhi dengan anak muda. Ia pun lalu ikut gabung dengan VOG. Semakin hari semakin bertambah-tambahlah teman dan pelayanan Sidney.

Melayani Tuhan dengan sungguh membuat Sidney berusaha terus menerus memberi yang terbaik dan bersikap profesional, sebagai ungkapan hormat pada Tuhan. Ia datang dan menyanyi tanpa pilih-pilih tempat. "Saya masih ingat pulang pelayanan menerima amplop berisi uang sejumlah Rp. 7.500, Rp.14.000 dan pernah juga amplop kosong bertuliskan, terimakasih atas pelayanannya.

Buat saya nggak masalah. Saya pun tidak bersungut-sungut karena hal seperti itu. Urusan saya, memberi yang terbaik. Tuhan pastilah yang memberkati dengan caranya. Percayalah satu persatu Tuhan sediakan bagi kita. Saya bersyukur banget untuk banyak hal yang Ia kerjakan bagi saya sendiri maupun komunitas saya," jelasnya mantap. Kini tentu saja Sidney tak perlu berdesak desakan dalam bis kota, Tuhan telah memberinya dua mobil yang mengantarnya pelayanan.

Sidney memang patut bersyukur, lagu-lagu yang ditulis dalam bahasa Inggris banyak dinyanyikan di gereja gereja di luar negeri. Bukan saja gereja Indonesia di luar negeri tapi juga gereja ‘bule' asli. Album GMB edisi bahasa Inggris segera dipasarkan lewat Koorong Book Store di Australia. Lalu kalau tak ada aral melintang di penghujung tahun ini, ia akan melempar album solo ke dua bertajuk Better Days kerjasama dengan Harvest Music. Konon, nilai kontraknya lumayan bagus.

"Secara nominal, berkatnya luar biasa,"aku Sidney. Satu lagi berita gembira yang tentu ditunggu banyak orang yaitu konser tunggal Sidney, rencananya akan digelar September tahun ini."Kita melakukan pekerjaan kita sebaik mungkin, Pasti Tuhan akan selalu buka jalan untuk kita. Pokoknya saya percaya, promosi dari Tuhan," ujar Sidney yang sewaktu kelas 3 SD meraih juara ke 3 lomba nyanyi se-DKI.

Hari-hari di depan Sidney nampaknya makin indah, makin baik seperti judul album terbarunya, Better Days...



~ Jawaban.com ~

Frans "Sisir" Rumbino - Menjelajah Dunia dengan Sisir

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 18.49

Kepalanya plonthos (gundul), tapi ke mana-mana ia selalu membawa sisir yang terselip di saku celananya. Untuk apa gerangan? Sisir yang biasa kita pakai untuk mempercantik diri dibalut dengan tas ¨kresek¨ oleh Frans disulap menjadi alat musik menarik!
Bakatnya terbilang langka. Bermusik dengan sisir dan kantong plastik “kresek”. Benda murah dan sederhana yang jamak kita pakai sehari-hari. Namun di tangan Mesakh Frans Rumbino, kedua benda itu mampu menghasilkan alunan musik menarik. Mirip suara saksofon yang mendayu-dayu dan trombone yang riang. Ia lantas dikenal dengan Frans Sisir. Kemahirannya bermusik dengan sisir telah mengantarnya keliling dunia dan bermain di depan kepala-kepala negara.

BERAWAL DARI ISENG

Kemampuan Frans bermusik dengan sisir dan plastik terbilang unik. Prosesnya pun tak kalah menarik. Kendati sejak kecil su-dah ditinggalkan orangtuanya, Frans kecil tak kehilangan keceriaan. “Keluarga saya broken home. Saya tinggal bersama kakek Robert dan nenek Alexanderina. Sejak kecil saya biasa mencari ikan untuk membantu kebutuhan keluarga,” tutur pria kelahiran Padaido, Biak Timur, 11 Februari 1972 ini. Sepulang mencari ikan, Frans suka meniup daun atau kulit kerang, mendendangkan lagu-lagu kampung, seperti Apuse, dll.

Dari kebiasaan meniup daun dan kerang itu, secara tak sengaja Frans bereksplorasi dengan sisir dan kantong plastik. Ceritanya, sebagai Putra Biak, Frans ingin mendukung kesebelasan kesayangannya, PSB Biak, ketika ada pertandingan sepak bola dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) di Jayapura. Namun, karena kala itu hanya ada sisir dan kantong plastik, Frans memanfaatkan kedua benda tersebut untuk menyemangati kesebelasan kesayangannya. Tak disangka, dari situlah ia mulai menyukai dan mendalaminya hingga dapat memainkannya dengan piawai.

“Awalnya cuma coba-coba saja meniup sisir yang saya bungkus dengan kantong plastik kresek,” ujar Frans. Semula, suaranya lurus ¨tet..tet ...tet...¨ saja. Dari situlah keluar ide untuk dipakai bermusik. Ia pun terus melatih kemampuannya meniup sisir. Mengasah talenta memang membutuhkan waktu yang lama.Awalnya tak mudah dan tidak berjalan mulus. Ia sering diolok-olok teman-temannya. Banyak tanta walaupun ada tantangan. Setiap kebaktian Jumat di SMP saya juga nyanyi dengan sisir dan plastik,” ucap Frans.

BERGULAT DENGAN KERASNYA KEHIDUPAN

Di balik talenta uniknya, kehidupan Frans tak kalah seru pula. Hidup menjelajah dari satu kota ke kota lain dengan keringat dan airmata. Pindah ke Jayapura, terpisah dari orangtua Frans harus berjuang agar dapat terus menyambung hidup. “Saya hidup di pasar dan terminal. Jadi kenek, kondektur, juga membantu mengangkat belanjaan orang. Meski susah, Tuhan itu baik. Dia tidak pernah melupakan anak-anak-Nya,” ujar sulung dari 6 bersaudara ini. Sekolahnya pun pindah-pindah, dari Jayapura, Blitar, Jakarta, dan kembali ke Jayapura hingga lulus SMP tahun 1988.

Karena prestasinya di sekolah, Frans mendapatkan beasiswa bersekolah di SMAN 8 Malang. Di kota kecil ini ada bakat lain yang ia kembangkan. Bermain bola. Menempati posisi striker, Frans sering tampil membela kesebelasan klubnya. Hasilnya? Boleh juga. “Waktu itu dapat 20-25 ribu (rupiah) tiap kali main. Sudah gedhe. Kost-kostan aja cuma 30-40 ribu,” ujarnya. Akibatnya waktu untuk bermusik memang berkurang.

SATU SEL DENGAN XANANA GUSMAO

Lulus SMA, Frans kembali hijrah ke Jakarta. Ia masuk di Fisipol UKI. Cita-citanya jadi diplomat. Namun karena terbentur biaya Frans mengadu nasib dengan menjadi penyanyi night club di kawasan Ancol hingga 3 tahun. Frans yang tergabung sebagai anggota Pemuda Pancasila ini juga sempat bekerja menjadi debt collector dan masuk dalam kehidupan yang keras. Cita-citanya pun kandas. Akibat pekerjaannya yang nyerempet bahaya, tahun 1999 Frans sempat mencicipi dinginnya dinding penjara Polda Metro Jaya. “Saya kena 4 bulan. Waktu itu anak pertama saya, Anelo, baru berusia satu bulan,” kenang ayah dari Anelo, Kezia, dan Lydia ini.

Setelah dua bulan di penjara Polda, Frans dipindah ke LP Cipinang. Hidup di rutan membuatnya me-nyadari kasih Tuhan. “Hidup saya hancur, tapi Tuhan beri kekuatan untuk bersaksi. Saya pikir hidup keras itu sia-sia,” katanya. Ia lantas mengajak teman-teman sesama tahanan menyikapi hidup secara positif. “Saya tetap merasakan kasih Tuhan di dalam LP. Saya ajak mereka olah raga, main musik, dan memuji Tuhan,” imbuhnya.

Dalam tahanan iman Frans semakin tumbuh dan berkembang. Di LP Cipinang Frans juga pelayanan bersama Xanana Gusmao, mantan presiden dan kini perdana menteri Timor Leste. “Saya teman satu sel dengan Xanana. Kami sama-sama pelayanan di LP,” lanjutnya. Lagu-lagu rohani dan alunan musik sisir dan plastik dari mulut Frans mampu menjadikan spirit bagi dirinya dan teman-teman sesama penghuni LP. Berbagai aktivitas, pelayanan, dan sikap positif yang ditunjukkan Frans selama di LP berganjar citra teladan. “Saya keluar dengan status napi terbaik,” ungkapnya.

MENGABDI DALAM PELAYANAN

Lepas dari LP, Frans terpanggil terjun dalam pelayanan. Kemampuan musikalitas Frans dalam bernyanyi dan meniup sisir berbalut plastik menjadi komoditi yang tak ternilai. Lengkingan saksofon yang dihasilkan banyak mengundang decak kagum pengunjung setiap ia tampil. Bukan hanya di panggung gereja. Frans juga diundang bernyanyi dan bermusik di berbagai acara. Peresmian acara, ulang tahun instansi dan pribadi hingga Lebaran pula. Banyak petinggi negara yang mengagumi bakat uniknya. Mantan Presiden Soeharto, Megawati, juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sultan Hassanal Bolkiah dibuatnya terpesona.

Ada kisah unik ketika Frans melakukan live performance di keluarga Cendana. “Saya pinjam sisir Pak Harto untuk membuktikan pakai sisir apa saja saya bisa,” ujar Frans yang ketika itu memainkan lagu Sio Mama. Ternyata, kata Frans, sisir milik mantan penguasa RI selama 32 tahun itu mampu menghasilkan suara lebih merdu. Tahun 2003 ke atas hidup Frans lebih banyak untuk pelayanan. Ken-dati demikian, bukan berarti semua berjalan baik. Ada saja orang yang mengambil keuntungan dari bakatnya. Ia sempat merasakan pengkhianatan oleh teman-temannya sesama asal Papua. Mulanya diajak rekaman, tapi akhirnya rekamannya dibajak. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya dalam melayani Tuhan.

NGAMEN DI PELATARAN LIBERTY

Tahun 2005 Frans mendapat kesempatan pelayanan di Amerika. Meski demikian, untuk mendapatkan visa ke Amrik tidak mudah. Ketika staf kedubes AS menanyakan tujuannya ke Amerika, ia jawab bermain musik. Mereka heran. “Saya keluarkan sisir dan plastik lalu nyanyi Amazing Grace,” ujarnya. Terpukau dengan nada indah kreasi Frans, mereka pun memberinya visa untuk 5 tahun! Di negeri Paman Sam ini, Frans pelayanan keliling New Jersey, new York, Philadelphia, Boston, Atlanta, dll. Ada kejadian unik ketika Frans bersama rombongan tur ke pelataran patung Liberty. Kagum dengan gedung pencakar langit dan megahnya patung Liberty, Frans lantas mengeluarkan sisir dan kantong plastiknya dan bermain memuji Tuhan. Sementara ia asyik dengan “alat musik”nya recehan dan lembaran dolar menghampiri. “Wah, saya dikira ngamen. Lumayan juga ada 80 dolaran,” kenangnya. Dengan sisir pula Frans telah berkelana ke Italia, Perancis, dan Belanda.

PESAN UNTUK KEMULIAAN TUHAN

Bagaimana Frans bisa menghasilkan suara dahsyat bak permainan saksofon Kenny G. hanya dari sisir dan kantong kresek? Apakah semua sisir dan kantong plastik bisa dipakai? “Pada dasarnya semua sisir dan plastik bisa. Tapi lebih bagus kalau sisirnya agak lembut dan plastiknya tipis. Saya meniupnya pakai perasaan,” ujarnya. Bunyi saksofon yang keluar dari sisir dan plastik kresek berasal dari paduan antara napas perut yang sudah terlatih dengan suara vibrasi plastik. Apa sih kesulitannya? “Sama seperti peniup pada umumnya, kalau napasnya pendek ya tidak bisa. Butuh napas panjang,” ungkapnya.

Kendati bakatnya terbilang langka, Frans tidak berambisi memasukkan dalam catatan rekor tertentu. “Tujuan saya bukan untuk mendapatkan penghargaan, tapi bagaimana nama Tuhan dimuliakan. Saya berharap dapat keliling dunia dengan sisir dan plastik bagi Tuhan Yesus. Saya berdoa supaya orang diberkati dan jadi kesaksian bahwa sisir dan plastik dapat memuliakan Tuhan,” tandasnya. Dulu, lanjutnya, Tuhan pakai tukang kayu, nelayan, dsb. Saya bangga karena saya dulu nelayan. Saya percaya Anda lebih dari sisir. Keterbatasan tak harus membatasi kita dalam berkreativitas. Frans telah membuktikan. Merangkai melodi nan harmoni dari benda sederhana untuk membawakan nyanyian yang sarat pesan.


~ bahana ~



KESAKSIAN ROBBY SUGARA

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 18.06



Robby Sugara (58) sempat menelantarkan keluarganya selama 14 tahun. Ia kembali berkat doa yang tak putus dari anak-anaknya

Robert Kaihena yang kemudian kita kenal dengan Robby Sugara berlimpah kasih sayang dari kedua orangtuanya, Matias Kaihena dan Inem. Kendati dibesarkan di negeri Belanda, Robby tidak mengenal kehidupan bebas. ”Mereka menjaga saya seperti anak perempuan. Saya ini kurang pergaulan, tahunya hanya rumah. Nggak pernah ke mana-mana,” kenang Robby yang hidup dalam keluarga harmonis itu.

PRIA ALIM

Saat kembali ke Jakarta, 1968, Robby adalah remaja alim yang hidupnya lu-rus. Setelah menyelesaikan pendidikan di STM Poncol, tahun 1970, ia bekerja sebagai pelayan restoran di sebuah hotel berbintang. Kariernya dimulai dari bawah, sebagai tukang nge-lap piring. Pelan-pelan, kariernya menan-jak hingga menjadi manajer restoran.Tak jauh dari hotel berbintang itu, Bertha Iriani Mariana tinggal bersama keluarganya. Gadis cantik peranakan Papua dan China itu memikat hati Robby. ”Kami kenal lewat teman. Lalu pacaran, sempat putus nyambung beberapa kali. Akhirnya tahun 1974, kami menikah,” kisahnya. Setahun menikah, lahir Ella Inggrid Maria, buah cinta mereka. Tahun itu pula, Robby mulai masuk dunia film. Berawal dari film Rahasia Perawan (1975), karier peranakan Belanda-Jawa dan Ambon di dunia hiburan melesat pesat.

MASUK DUNIA FILM

1975 hingga 1983 adalah masa kejayaan Robby. Para gadis menyanjungnya. Para ibu mengaguminya. Produser pun mencintainya. Hampir semua film yang dibintanginya laris manis. Sebutlah di antaranya dr. Karmila, Kabut Sutra Ungu, Anna Maria, Romantika Remaja, dan masih banyak lagi. Pria Brisk itu telah memikat insan di seluruh negeri. Ber-sama Roy Marten, Doris Callebout, Yati Oktavia, Yenny Rahman, ia menjadi The Big 5, ikon film nasional kala itu. Popularitas membuat hidup Robby menjadi lebih mudah. Semuanya berubah drastis. Yang dulunya hidup pas-pasan, uang di kantong hanya cukup untuk naik bis, jadi berlimpah harta. Yang sebelumnya kuper jadi gaul abis. Ia bagaikan burung yang lepas dari sangkarnya. Bebas dan lepas. Mulailah, ia mencicipi pergaulan bebas yang tak pernah dirambahnya. Disko dan pesta jadi menu hariannya. Foya-foya jadi bagian kehidupan barunya.Namun, kemakmuran itu tak berumur lama. 1983, saat perfilman nasional mulai mundur, bintang Robby pun meredup. Order main film sepi. Bahkan tak ada sama sekali. Robby kehilangan pegangan. Tabungannya menipis. Sementara, di rumah ada isteri dan ketujuh anak mereka yang bergantung penuh pada Robby.

BANGKRUT

Menghadapi kondisi krisis ini, Robby dan Etha, justru tak berjalan beriring. Pertengkaran kerap terjadi. Kondisi mereka memburuk. Perusahaan yang didirikan Robby bersama sang rekan, morat-marit. Nyaris bangkrut. Untuk ”menyelamatkan” usaha mereka, sang rekan mengambil jalan pintas. Ia memin-ta Robby mendekati seorang pengusaha perempuan yang dekat dengan penguasa, kala itu. Harapannya, perempuan itu bisa menolong usaha mereka.MINGGATBerawal dari urusan bisnis, hubungan Robby dengan perempuan itu, sebut saja Tita, merembet ke hubungan pribadi. Robby kerap curhat masalah keluarganya pada Tita. Bagai mendapat umpan, Tita yang saat itu terpikat dengan ketampanan Robby, berusaha menjadi penolong. Akhirnya, mereka jatuh cinta. Etha tak berdaya. Ibarat perangko dengan amplopnya, mereka sudah lengket. Sulit dipisahkan.Menjalin hubungan dengan Tita, Robby bagaikan menemukan oase atas kerontang hidupnya. Meski sebenarnya, itu hanyalah oase semu. Kewajiban menghidupi isteri dan tujuh anak adalah beban berat bagi Robby. Bersama Tita, Robby melihat masa depan cerah. Tahun 1984, Robby mengambil keputusan fatal. Ia meninggalkan Etha bersama ketujuh anak mereka yang masih kecil. Si sulung Ella, berusia 11 tahun. Sementara Juan, si bungsu masih 9 bulan. ”Saya benar-benar pengecut. Saya tinggalkan keluarga, tanpa harta sepeser pun. Saya pergi menyelamatkan diri sendiri,” katanya sendu. Bersama Tita, ia menghilang dari Jakarta. Menuju ujung bumi Jawa Barat. Mereka membangun kehidupan baru di pinggir laut Selat Sunda. Benar dugaan Robby, hidupnya bersama Tita berkelimpahan. Dalam waktu singkat, bisnis yang mereka rintis berkembang cepat. ”Kami membangun tempat penginapan indah di pinggir pantai. Tempat itu sering digunakan untuk kegiatan rohani seperti retreat dan doa semalam suntuk. Itu seakan membuktikan bahwa saya di jalan yang ”benar”,” kisah pria kelahiran Malang, 20 Juli 1950 itu. Robby bagai hidup di dunia mimpi. Kekayaan begitu mudah meng-hampirinya. Bersama Tita, tiga bulan sekali Robby melancong ke Eropa. Robby melupakan keluarga.

KELUARGA MENDERITA

Sementara Robby hidup bagai raja, keluarganya hidup di ujung jurang. Sepeninggal Robby, Etha merasa seakan langit runtuh menimpanya. Betapa tidak, tak hanya ditinggalkan suami, Etha juga dikucilkan keluarga besarnya. ”Papa saya marah besar, lalu memberi pilihan berat, Bawa ketujuh anakmu biar Robby yang urus dan kamu kembali ke keluarga. Kalau tidak, keluarga besar ga mau tahu urusan kamu dan anak,”’ kisah perem-puan kelahiran 27 Mei 1953 itu.Pilihan yang amat berat. Namun, Etha memilih mempertahankan anak-anaknya. ”Bagi saya, anak-anak bukanlah hanya hasil hubungan suami isteri. Mereka adalah titipan Tuhan. Saya harus menjaga betul kepercayaan Tuhan ini,” tutur Etha tegas. Jadilah, episode pedih, kehidupan Etha ber-sama anak-anaknya dimulai.Etha tak mau lama-lama berkubang dalam kesedihan. Baginya, nasib tak perlu diratapi. Masalah harus segera diha-dapi. Di depannya ada tujuh anak yang harus dihidupi. Ia segera bergerak. “Awalnya saya tidak tahu harus memulai dari mana. Karena saya adalah ibu rumah tangga lulusan SMA yang tak punya keahlian khu-sus. Tapi, saya punya punya prinsip: apa yang orang bisa pasti saya bisa,” ujar perempuan yang besar di Papua itu.Ia tanggalkan gengsi sebagai isteri mantan artis terkenal. Ia datangi teman-teman untuk menawarkan jasanya. Entah itu mengurus paspor, SIM, perpanjangan STNK, dll. Tak hanya itu, ia juga masih sempat membuat dan berjualan kue. Menjual baju dengan cara kredit pun dilakoninya. Prinsipnya, ia harus bergerak demi anak-anak. Hasil yang ia dapatkan sehari harus bisa mencukupi kebutuhan selama tiga hari.

ANAK-ANAK STRES

Pagi-pagi, pukul 06.00 ia sudah keluar rumah. Baru pulang menjelang maghrib. Anak-anak di rumah diasuh oleh pembantu yang ikut mereka tanpa dibayar. Berkat kegigihannya, anak-anak tidak pernah kekurangan makan. Namun, mereka punya tunggakan uang sekolah dan tagihan listrik selama beberapa tahun.Tak hanya masalah ekonomi, Etha pun dihadapkan pada masalah psikologis anak-anaknya. Kepergian sang ayah, menorehkan luka mendalam pada hati mereka. Etha sering dipanggil ke sekolah lantaran anak-anak sering memperlihatkan perilaku ganjil. Suatu saat, Etha diminta datang ke sekolah Cilla, anak ketiganya saat istirahat pagi. Waktu itu, usia Cilla masih 9 tahun. Di saat teman-temannya berlarian dan tertawa riang, Etha mendapati Cilla tengah bengong. Pandangannya kosong. Sementara, Ella, si sulung sering kejang jika kangen dengan ayahnya. “Anak saya yang pertama hingga keempat yang saat itu berusia 7 tahun sudah terkena imbas dari kehancuran rumah tangga kami,” tutur Etha pedih.

Melihat anak-anak menderita, etha pun mengambil keputusan. di hadapan mereka, etha berjanji, “tidak ada bapak kedua di rumah ini. kecuali Bapak robby yang kita tunggu pulang.” rupanya, kata-kata itu menguatkan anak-anak. Mereka masih punya harapan, suatu saat akan bertemu dengan sang papa.

Anak-anak Cinta Tuhan
Sebagai manusia biasa, Etha sadar. Ia tak mungkin mampu mengatasi problem psikologis yang dihadapi anak-anaknya seorang diri. Apalagi Etha melihat kenyataan di sekelilingnya. Anak-anak dari keluarga broken home kehidupannya juga hancur kecanduan narkoba dan seks bebas. Ia tak mau anak-anaknya akan mengalami hal yang sama. Maka, ia membawa anak-anak dekat dengan Tuhan. Jadilah ketujuh anak Etha, akrab dengan kehidupan gereja sejak mereka kecil. “Saya tidak mau anak saya lepas dari tangan Tuhan. Ngeri rasanya,” katanya begidik. Keputusan itu memang tepat. Anak-anaknya bertumbuh dalam rohani. Suatu kali, si sulung meminjam satu kamar di rumah mereka. Awalnya, Etha tak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana. Hingga suatu hari, ia mencoba mengintip dari jendela. Ia melihat tiga anaknya sedang memasang lilin di lantai. Setelah itu mereka bergabung dengan empat saudaranya yang lain, duduk bersila di lantai. Diterangi oleh sinar lilin (karena nunggak bayar selama dua tahun, listrik dicabut), mereka bergandengan tangan dan melantunkan pujian dan penyembahan pada Tuhan. Ketujuh anak itu bersatu hati, berdoa pada Tuhan. Sebelum mereka meminta sesuatu pada Tuhan, mereka berdoa, “Tuhan kami mengampuni papa kami, karena dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Tuhan kami juga mengampuni perempuan yang mengambil papa kami. Beri suami lain supaya papa kami bisa pulang.” Tubuh Etha bergetar. Ada rasa haru bercampur syukur dan bahagia. Ia bangga melihat anak-anaknya tumbuh dalam Tuhan.

SEMPAT TERGODA

Kendati sudah bekerja keras membanting tulang, kondisi ekonomi keluarga mereka tak kunjung membaik. Kebutuhan makin meningkat,sementara uang makin susah didapat. Etha mulai putar otak. Ia ingin mendapatkan uang dengan cara mudah. Mungkinkah? Ah, ia melihat dirinya di cermin. Di sana ada sosok perempuan muda yang punya daya tarik kuat. Kendati dari rahimnya sudah lahir tujuh anak, perempuan itu tetap cantik dan menarik. “Jika lu butuh uang, telpon gue. Gue akan carikan lu kerjaan,” terngiang kembali ucapan sang teman beberapa waktu lalu. Etha tahu persis pekerjaan yang dimaksud sang teman. Rasanya, tak sudi ia menjalaninya. Tapi, ia harus berhadapan dengan kenyataan. Ia butuh uang untuk menghidupi anakanaknya. Etha melangkah ke telepon umum. Tangannya memutar sejumlah nomor. “Aku butuh pekerjaan, tolong carikan aku bos ya,” katanya gemetar. Etha sadar, ia tengah menjerumuskan dirinya sendiri. Namun, tak ada pilihan lain. Malam itu, Etha gelisah. Batinnya berperang. Sebagian melarang ia melakukan itu. “Kau ini tak punya harga diri!”. Sebagian lain, mendukungnya. “Ayolah, ini kesempatan bagus. Anak-anakmu butuh uang.” Pagi datang. Saat hendak bangun, ia mendapati kasur penuh dengan darah. Etha mengalami pendarahan hebat. Suatu hal langka yang tak pernah dialami sebelumnya. “Kalau pun saya menstruasi biasa gak gitu-gitu amat,” kenangnya. Ia lalu menelpon temannya, menceritakan kejadian itu. “Ah, lu stres aja kali,” begitu komentar sang teman. Maka, janji hari itu pun batal. Sebulan kemudian Etha kembali meminta pekerjaan pada sang teman. Namun, kejadian itu terulang kembali. Lagi-lagi Etha mengalami pendarahan. Bagi Etha, kejadian itu adalah sebuah teguran keras dari Tuhan. “Sejak itu, saya tidak berani melakukan itu. Jangankan melakukan. Bicara saja, saya udah takut,” ungkapnya. Jadilah, Etha kembali mencari uang dengan cara yang diperkenankan Tuhan.

DOA TAK KUNJUNG PUTUS

Hari berlalu. Ketujuh anak Robby tumbuh menjadi gadis dan perjaka. Mereka mewarisi keelokan fisik dari orang tuanya. Kerinduan pada sang ayah, tak kunjung pudar. Mereka masih setia, setiap hari berdoa pada Tuhan, mengharap sang papa kembali. Setahun, dua tahun, doa mereka seakan tak terjawab. Pada tahun kelima, salah seorang anaknya berkata, “Aduh Ma, ampun deh udah lima tahun gak balik juga.” Mereka mulai bosan. Tak kunjung mendapat jawaban dari Tuhan. Pada tahun kesembilan, enam dari tujuh anaknya “menyerah”. Mereka memperbolehkan Etha menikah lagi. Namun, Cilla, anak ketiganya melarang. “Jangan Ma. Mama tidak boleh menikah lagi. Jika mama kawin, papa gak bisa balik lagi. Masih ada aku yang duduk di kaki Tuhan. Tuhan pasti jawab doaku. Mama sabar ya,” ujar Cilla menguatkan sang mama.

PERTEMUAN MENGHARUKAN

Pada tahun kesepuluh, 1994, Ella si sulung berhasil menemukan “tempat perlarian” sang ayah. Ia lalu mengajak keenam adiknya ke ujung barat Pulau Jawa untuk bertemu Robby. Robby berdiri mematung. Di depannya ada tujuh anaknya yang kini tumbuh menjadi remaja. Cantik dan ganteng. Si sulung Ella (21) dan si bontot, Juan (11). Perasaan bersalah segera mendera Robby. “Adakah mereka marah, dendam dan benci padaku?”batin Robby penasaran. Namun, ah, lihatlah mata mereka. Mereka menatap Robby, ayah yang telah menelantarkan mereka selama 10 tahun, penuh kasih. Tak satupun keluar makian dari mulut mereka. Hanya satu permintaan mereka, “Papi pulang.” Pertemuan singkat itu menorehkan kerinduan mendalam pada hati Robby. Ia ingin kembali. Kerinduan yang mendalam itu akhirnya menjadi doanya. Ia sering menghabiskan malam di pinggir laut. Pikirannya selalu melayang ke keluarganya.

KEMBALI KE KELUARGA

Gelagat ini tercium oleh pasangan selingkuhannya. Ia tak rela Robby kembali ke keluarga. Maka, ia pun berusaha meneror Robby. “Saya mendengar ancaman, dia akan membuat saya cacat supaya tidak dapat kembali ke dunia film. Kalau sampai saya tinggalin dia maka saya akan diadukan ke polisi, dsb. Namun, semua itu sebenarnya malah meringankan langkah saya untuk segera meninggalkan dia,” kisah Robby pada Bahana di suatu pagi di Yogyakarta. Kerinduan Robby sudah tak tertahankan. Tahun ke-14, Januari 1998, ia menelpon Etha, berjanji akan kembali ke keluarga. Pada hari yang dijanjikan, ketujuh anaknya berkumpul di ruang tamu. Sambil menunggu Robby, mereka terus melantunkan pujian dan penyembahan pada Tuhan. Tepat jam 2 pagi, terdengar ketukan di pintu. Robby akhirnya pulang. Sama seperti saat meninggalkan keluarganya, Robby pun kembali ke keluarga dalam kondisi nol. Hanya ada uang Rp 60 ribu di dompetnya, dua celana jeans dan beberapa t-shirt. Semua kemewahan yang direguknya ditinggalkan begitu saja. Robby Sugara, si Big Five itu jadi pengangguran.

KELUARGA DIPULIHKAN

Untuk bertahan hidup, Robby sempat menjadi supir dan membantu Roy Marten mengurus cafe. Pada April 1998, Tuhan memberinya kesempatan untuk kembali ke sinetron. Di dalam keterbatasan itulah, justru keluarga Robby dipulihkan. Cinta kasih antara Robby dan Etha yang terkubur selama 14 tahun, Tuhan pulihkan. Kini, mereka bahkan seperti pengantin baru lagi. Belajar dari ketaatan anakanaknya, Robby kini men jadi pelayan Tuhan. Tahun 2005, ia tinggalkan dunia sinetron dan melayani Tuhan sepenuh waktu. Robby-Etha, pelayanan keliling Indonesia, bahkan luar negeri untuk menyaksikan kasih Tuhan dalam kehidupan mereka. Itulah kedahsyatan kasih Tuhan. Ia bisa mengubah sebuah kehancuran menjadi kemuliaan.

source : http://www.bahana-magazine.com

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to blog design, short reviews, tips and make money online.

Want to subscribe?

Subscribe in a reader.