Written by KESAKSIAN KRISTEN on 23.04




Pertobatan Permaisuri Lucifer

Terbukanya Celah Kegelapan

Pada suatu hari, seorang paranormal, datang berkunjung ke rumah Pak Bambang Prasetyo, ayah Lala. Paranormal yang adalah tetangga Lala itu mengatakan bahwa ada sesuatu yang khusus pada Lala, kesaktian supranatural dari Kakek Lala akan turun kepada Lala, anak ke-2 dari 2 bersaudara itu. "Ketika Paranormal itu meminta Lala untuk berpuasa, saya pikir itu bukanlah sesuatu yang berbahaya buat anak saya," ujar Pak Bambang, yang sebelum menikah dengan Ibu Annie memeluk agama Islam. Lala pun mulai berpuasa. Ia menerima anjuran itu. Sang paranormal berkata bahwa ilmu yang Lala miliki bisa digunakan untuk kebaikan dan menolong banyak orang. Salah satunya menyembuhkan orang sakit. Meskipun masih ragu, namun Lala menurutinya. Paranormal itu menasihatkan Lala untuk hidup jujur, jangan curang dan berbuat tidak benar, sehingga Lala semakin tertarik. Bahkan ia menyampaikan pesan Kakek Lala supaya Lala rajin belajar. Lala juga percaya bahwa itu benar.

Kejadian Supranatural

Satu hari setelah berpuasa dan mengikuti ritual yang disarankan, Lala bisa melihat dan berbicara dengan arwah yang sudah mati. Arwah-arwah itu berwujud manusia dan sering mendatangi Lala sambil menitipkan pesan untuk keluarga yang mereka tinggalkan. Salah satu arwah berpesan kepada anak-anaknya supaya mereka segera berkunjung ke kuburannya. Kemudian Lala menyampaikannya.

Suatu ketika, Lala menyadari bahwa ia memiliki kemampuan untuk memindahkan barang apa pun tanpa menyentuhnya. Cukup dengan berkonsentrasi maka barang tersebut akan bergerak ke mana pun Lala kehendaki. Bahkan orang sakit dapat Lala sembuhkan.

Memasuki tahun 2001, Lala bertemu dengan Sunan Gunung Jati dan Sunan Kali Jaga. Ia bisa pindah ke satu tempat ke tempat lain, muncul pada saat orang lain tidak melihatnya. Setiap kali mengisi bensin di sebuah pom bensin, kasirnya selalu berkata bahwa Lala sudah membayarnya. Padahal Lala tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Kejadian-kejadian itu membuat Lala semakin disanjung oleh teman-temannya. Namun teman-teman Lala yang beragama Kristen tidak menunjukkan kekaguman kepada Lala, sehingga Lala merasakan suatu kejanggalan.

Tamu Misterius Datang Ke Dalam Kamar

Suatu hari, sepulangnya Lala dari kampus, ia melihat seorang laki-laki berwajah tampan sedang duduk di atas tempat tidurnya. Mukanya telihat halus dan licin. Lala hendak memarahinya karena ia lancang masuk ke dalam kamar, namun mulut Lala tidak dapat mengeluarkan suara. Laki-laki itu menatap Lala dengan tatapan tajam lalu berkata, "Kamu adalah pilihanku, dan kamu akan kujadikan permaisuri. Akan kuberikan semua fasilitas yang kamu butuhkan, rumah, uang, mobil dan harta yang melimpah, sehingga kamu tidak merepotkan orang tuamu lagi." Lala sempat terbuai dengan tawaran itu. "Jika kamu menjadi permaisuriku maka kita berdua akan membuat Bandung berdarah," ucap laki-laki itu lagi. Lala mulai ketakutan dan sadar bahwa laki-laki ini bukan manusia. Mulutnya yang sempat terkunci tiba-tiba bisa berbicara kembali. "Saya tidak mau," jawab Lala. Wajah laki-laki misterius itu berubah menjadi tidak bersahabat, seperti penuh dengan amarah. Dalam sekejap mata tiba-tiba ia menghilang dari kamar Lala. Dan seiring kepergiannya, terasa guncangan hebat dalam kamar Lala sehingga membuat seisi kamarnya berantakan. Bahkan orang tua Lala yang sedang berada di lantai atas ikut merasakan guncangan tersebut. Perasaan Lala mulai tidak karuan. Ia mulai merasa khawatir dan bertanya dalam hati, apa yang sekiranya akan terjadi dalam hidupnya setelah kejadian ini.

Teror Akibat Dendam Amarah Lucifer

Lima hari berlalu dari kejadian itu, ternyata belum terjadi apa-apa dalam kehidupan Lala. Ia pergi ke kampus seperti biasanya. Ketika pulang kuliah, ia melihat keadaan di dalam mobilnya berantakan. Tiba-tiba saat ia hendak masuk ke dalam mobil, pintu mobil Lala tertutup sendiri dan terbanting keras sehingga menjepit tangan Lala. Lala menjerit kesakitan namun tidak ada satu orang pun yang mendengarnya. Setelah cukup lama menahan sakit, barulah pintu itu terbuka kembali dan Lala dilarikan oleh satpam kampusnya ke rumah sakit Bandung.

Keesokan harinya, di saat Lala sedang jalan-jalan dengan teman-temannya, sesuatu yang keras seperti memukul kepalanya. Teman-teman Lala tidak melihat apa-apa, bahkan menganggap Lala hanya bergurau. Sampai tiba-tiba wajah Lala lebam dan terluka dengan sendirinya. Hanya Lala sendiri yang merasakan pukulan-pukulan itu. Seperti ada roh halus yang sedang menghajarnya.

Di dalam kelas, ketika Lala sedang mengikuti pelajaran salah satu mata kuliahnya, tiba-tiba tubuh Lala terlihat seperti ada yang menarik, dan kursi yang Lala duduki melayang ke atas udara. Seisi kelas merinding ketakutan dan bingung dibuatnya. Teman-teman Lala mulai panik melihat kejadian itu. Dan untuk mengantisipasi kejadian serupa terulang kembali, mulai di hari selanjutnya mereka mengadakan doa bersama sebelum kuliah dimulai. "Kehidupan saya tidak tenang karena ‘mereka' selalu mengganggu saya," ujar Lala.

Gangguan belum berakhir. Sewaktu makan, Lala tidak bisa memasukkan makanan yang ada di sendok ke dalam mulutnya. Ketika ia mencoba dengan garpu, garpu itu melesak ke dalam mulutnya dan menusuk ke lidah. Teman-temannya berusaha membantu Lala menarik garpu itu, namun tidak berhasil. Darah mulai mengalir dari dalam mulut Lala. Akibat dari kejadian itu Lala tidak bisa makan selama satu minggu, badannya mulai terlihat kurus sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan khusus.

Sesampainya di rumah sakit, jarum infus yang hendak dimasukkan ke pembuluh darah Lala sulit untuk dimasukkan. Dokter yang bertugas semakin dibuat heran ketika muncul tanda seperti simbol ‘X' berwarna merah di dahi Lala. Simbol itu seperti luka yang kering. Bahkan beberapa waktu kemudian muncul tulisan ‘SATAN' di tubuh Lala. "Saya dipermalukan sekali oleh Lucifer," ujar Lala.

Teror demi teror terus berdatangan. Semakin hari semakin aneh dan mengerikan. Tiba pada puncaknya ketika Lala sedang masuk ke dalam kamar mandi, ia menghilang seketika. Teman-temannya sempat terbelalak ketika mereka melihat kamar mandi dalam keadaan kosong. Karena sebelumnya mereka sempat melihat dengan jelas Lala masuk ke dalam situ. Akhirnya disebarkan berita kalau Lala hilang. Seorang petugas polisi menemukan Lala sedang berdiri di pinggir jalan. Kejadian itu terulang kembali pada hari berikutnya. Lala menghilang dan ia tiba-tiba sudah berada di pegunungan Ciwidey.

Suatu hari Lala melihat sosok iblis keluar masuk dalam tubuhnya. Perlahan penglihatannya mulai memudar dan semua yang dilihat Lala seperti buram. Pada akhirnya Lala tidak dapat melihat sama sekali. Semua serba gelap. Beberapa menit kemudian sebuah tangan yang besar terasa seperti mencekik leher Lala. Dan Lala menjadi bisu seketika itu juga. Di saat yang bersamaan, kaki Lala juga lumpuh. Kejadian itu terjadi pada bulan April 2002. Tidak sampai di situ saja. Iblis juga menyumbat pikiran Lala sehingga Lala menjadi amnesia dan tidak mengenali satu orang pun yang ada di dekatnya. Stres yang hebat mulai Lala alami. Ia merasa tidak memiliki pengharapan. Nilai-nilainya hancur dan teman-temannya satu per satu mulai pergi menjauhi dirinya.

Pencobaan Bunuh Diri

Lima hari sudah Lala lewati dalam keadaan buta, bisu, lumpuh dan tidak mengenali suara-suara yang ia dengar. Pilihan yang terlintas dalam pikiran Lala hanya ada 2; menyerahkan diri kepada iblis atau bunuh diri. Karena sudah tidak kuat menahan penderitaan tersebut, Lala memutuskan untuk bunuh diri. Ia mencoba meraba-raba seisi kamarnya untuk mencari barang yang tajam supaya dapat menikam lehernya sendiri dan menghabisi nyawanya. Tetapi niat itu batal ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya dan menggenggam tangan Lala. Orang itu menuliskan sesuatu di atas tangan Lala, "Ini mama." Dan lagi ia menuliskan sebuah kalimat, "Segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Yesus sayang sama Lala." Hingga akhirnya Lala menemukan pilihan yang ke-3, yaitu menerima Yesus.

Mujizat Kesembuhan Terjadi Saat Pelepasan

Sementara itu, selain kedua orang tua Lala, ada banyak orang berdoa untuk Lala. Karyawan Maranatha di bagian pembukuan juga ikut berpuasa untuk Lala, bahkan mereka berdoa selama berjam-jam. Mereka berdoa agar Tuhan segera menolong dan mengasihani Lala. "Saya melihat suatu keindahan yang Tuhan perlihatkan. Rumah kami menjadi rumah doa," ucap Pak Bambang dengan wajah berseri-seri ketika memberikan kesaksian. Kebahagiaan terpancar dari mimik wajahnya yang tenang ketika ia mengingat kembali kejadian itu. Akhirnya mujizat kesembuhan terjadi. Doa orang benar besar kuasanya. Lala bisa mendengar dan berbicara lagi, meskipun ia belum bisa melihat.

Lala mulai ikut bernyanyi memuji dan menyembah Tuhan bersama teman-temannya. Dan secara ajaib perlahan-lahan warna hitam yang menutupi penglihatannya mulai berubah menjadi warna-warni. Lala bisa melihat kembali. "Saya mulai mengamati bahwa pujian dan penyembahan ada kuasa. Tuhan bertahta di atas puji-pujian," ujar Lala.

Kejadian Aneh Muncul Kembali

Beberapa hari kemudian, ketika sedang berada di dalam mobil bersama kedua orang tua dan pamannya, Lala tiba-tiba menghilang. Kejadian itu membuat mereka menjadi ngeri dan panik, karena Lala tidak lagi berada bersama mereka. Sedangkan Lala sendiri tiba-tiba sudah berada di dalam sebuah rumah besar yang aneh. Beberapa anak muda menyapa kehadiran Lala. Lala tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Kuasa iblis seperti sedang menguasainya. Lalu datang seseorang memasuki ruangan, seorang laki-laki yang dahulu pernah berada di dalam kamar Lala. "Mungkin kamu lupa sama saya, tapi hari ini kamu akan saya jadikan permaisuriku," ucap laki-laki itu. Dalam keadaan tidak berdaya, iblis membawa Lala ke pelaminannya. Anak-anak muda yang berada di dalam ruangan tersebut membaca sebuah mantera sambil mengiringi perjalanan Lala.

Lala dibawa oleh laki-laki itu dan diposisikan di sebelah dia sambil dirangkulnya. Semua orang yang ada di depan Lala memakai baju hitam, dan mereka terlihat sedang memakan daging mentah. Darah segar muncrat dari mulut mereka - mengotori lantai ruangan. Mulut mereka berlumuran darah. Lalu setelah itu anak-anak muda yang berada di dalam ruangan saling berhubungan seks.

Laki-laki misterius yang membawa Lala mulai berusaha menjamah tubuh Lala. Kemudian Lala melihat wajahnya berubah menjadi panjang. Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Lala sebuah ajakan untuk menyebut nama Yesus. Lala pun berusaha berkata dalam hati, "Yesus tolong saya, walau saya lupa tentang Kau tapi saya tahu Kau mau menolong saya, Yesus tolong saya."

Akhirnya ketika mata Lala berkedip, ia sudah berada di tempat lain lagi. Terlihat banyak angkot-angkot lewat. Lala sedang berada di pinggir jalan. Ia tidak tahu mau pulang ke mana. Walaupun dalam keadaan bingung, namun Lala bersukacita. Ia meneriakkan nama Yesus sehingga orang-orang memperhatikannya.

Lala masih tidak tahu harus pulang ke mana. Ia kembali berseru kepada Yesus. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Lala mendengar suara Tuhan yang lembut, "Anak-Ku, orang tuamu sekarang ada di Gereja Sidang Jemaat Allah, di Jalan Sudirman. Ketahuilah Aku senantiasa menyertai kamu."

Tuhan Yesus Mendatangi Lala

Setibanya di gereja itu, Lala bertemu kembali dengan pamannya. Mereka naik ke atas gedung gereja dan melihat kedua orang tua Lala sedang berdoa. Ibu Annie Prasetyo, ibu Lala, segera memeluk Lala sambil mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Yesus.

Lalu mereka semua turun ke bawah. Saat itu Lala merasa sudah sangat putus asa, dan berkata kepada ibunya bahwa ia mau mati saja. Ibu Annie mencoba menenangkan Lala. Dalam keadaan letih yang luar biasa tiba-tiba Lala melihat Yesus hadir di hadapannya. Mata Lala menatap lurus ke suatu titik. Orang-orang di sekeliling Lala mulai menengking-nengking, karena mereka berpikir Lala kembali didatangi oleh roh jahat. Namun Lala tetap tenang. Yesus mendekati Lala dan berkata, "Anak-Ku, Aku mengasihi engkau." Dia lalu membuka tangan-Nya dan mengajak Lala untuk berdoa, "Bapa Kami yang di sorga..." Lala mengikutinya dan semua orang menangis.

Tak lama kemudian perut Lala dipelintir oleh iblis dan dipukul. Lala menjerit kesakitan. Tangan kiri Lala tetap dipegang oleh Tuhan. Suasana menjadi gaduh, namun Lala sempat mendengar suara Yesus, "Percayakah Kau kepadaku?" Lala menjawab, "Saya mau percaya asalkan saya sembuh dulu!" Hingga akhirnya Lala tidak sadarkan diri. Lau ia dibawa ke ruang doa. Peristiwa yang menggemparkan terjadi. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, keluar suara lemah dari mulut Lala, "Ya Yesus, Engkau Anak Allah Yang Maha Tinggi. Engkau adalah Mesias yang sudah mengalahkan saya 2000 tahun yang lalu. Ampuni kami Tuhan." Setelah terbatuk keras, Lala mulai sadar. Tuhan Yesus kembali bertanya kepada Lala pertanyaan yang sama, dan Lala segera menjawabnya, "Saya percaya Tuhan!" Tangan Tuhan menjamah wajah Lala dan seketika itu ingatan Lala mulai pulih. Ia dapat mengenali semua orang yang ada di ruangan tersebut. "Maukah Engkau memikul salib bersama-Ku?" tanya Yesus lagi. "Ya, saya mau!" jawab Lala dengan tegas. "Sampai maranatha," ucap Yesus sebelum Ia pergi berlalu.

Kehidupan Lala dipulihkan dan diubah menjadi baru. Pak Bambang dan Ibu Annie kini mulai terlibat aktif dalam pelayanan. Mereka percaya, bahwa segala sesuatu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan.

Sumber Kesaksian :
Melanie Prasetyo

Sandra Dewi - Hadangan Tantangan Rezeki Pun Berdatangan

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 19.50

Niat awal ke Jakarta hanyalah menuntut ilmu, lain tidak. Di tengah kesibuk-an kuliah ia acap kali meminta uang. "Masalah anak kost. Uangnya sering habis tengah bulan," Sandra beralasan.Tak enak hati lantaran sering telepon meminta uang, timbullah pikiran brilian. "Di jalan yang setiap hari aku lewati menuju kampus ada poster besar dengan tulisan ikutilah pemilihan Miss Enchanteur. Hadiahnya Rp50 juta. Aku tertantang dan mengincar hadiahnya," jelasnya sambil tertawa lepas.

Sulung dari tiga bersaudara ini yakin kemenangan menjadi Miss produk kecantikan itu karena jawaban realistisnya. Ketika ditanya juri tentang motivasi mengikuti pemilihan itu, Sandra, begitu ia biasa dipanggil, menjawab, "Saya tertarik dengan hadiahnya, Rp50 juta. Saya ingin memperbanyak teman dan relasi," kenang lulusan London School of Public Relations. Tak berhenti di situ. Selanjutnya kelahiran Bangka ini tertantang lagi mengikuti pemilihan duta pariwisata Jakarta Barat.

Kemenangan diraih, namun berbuntut banyaknya kegiatan yang harus dijalani. Sadar jadwalnya berubah dengan berbagai kesibukan, ia akhirnya pilih kuliah sebagai prioritas, "Bicara materi lumayan. Tapi dari awal aku nggak kepikiran masuk ke dunia hiburan. Niatnya kuliah dan belajar. Puji Tuhan, lulus kuliah baru aku mau serius dan dapat tawaran pula, pas banget, kan!?" ulasnya takjub.

MENAKLUKKAN TANTANGAN

Semua hal positif dan berdampak baik akan ditempuhnya. Itu merupakan tantangan. Dalam ‘adventure' tantangannya itulah ia mencoba mengikuti pemilihan model majalah wanita ternama. Sandra yang saat itu pekerja kantoran pun "melamar". Sekali lagi ia mengantongi kemenangan. Lewat kemenangannya ia bertemu dengan Nia Dinata. Sutradara yang sarat prestasi di jagad per filman semisal Arisanatau Janji Joni, yang juga diidolakan Sandra. Diam-diam cewek family minded ini ingin sekali bermain di film garapan Nia Dinata, namun ia malu untuk menyampaikan niatnya. "Aku suka karya-karya Teh Nia (Nia Dinata-red). Dan mau banget main di filmnya, tapi aku siapa?"

Begitu kemenangan di tangan. "Teh Nia yang jadi juri memberi selamat ke atas panggung dan bilang dia mau kasting aku. Aku hanya takjub melihat cara Tuhan yang ajaib. Dari situ aku belajar, kalau baik untuk aku pasti Tuhan kasih," kisahnya berbunga-bunga mengingat kembali kenangan tahun lalu.Ketakjubannya masih berlanjut. Saat kasting untuk film, para "pesaingnya" bukan kelas teri, tapi para pemenang piala Citra dan sederet penghargaan lainnya. Takut? Pasti ada. Menyerah? Tidak sama sekali. "Di ruang tunggu kasting yang datang sempat membuat aku kaget. Aku juga doa. Terserah Tuhan," jelasnya tanpa mau menyebut nama pemain film papan atas yang dimaksud.

Usai kasting, ia menaikkan doa. Keyakinannya terbukti, kalau baik pasti diberi Tuhan. "Permintaanku langsung dijawab. Aku sangat bersyukur. Aku lulus kasting dan diterima," urai pemain film bergenre komedi romantis ini. Sebagai pemain yang baru meretas di dunia film, talent iklan sebuah bank nasional ini dengan mudahberadaptasi dan mengakrabi pekerjaan. Ia merasa diterima dengan baik. Kendati pemain senior, para lawan mainnya tak mengecilkan dirinya.Terlalu pagi untuk berpuas diri sekarang. Baginya apa yang dipercayakan Tuhan lewat sinetron, iklan, dan film merupakan buah dari keberaniannya menaklukkan apa yang dianggap orang sukar. "Aku suka tantangan. Waktu niat kuliah di Jakarta, orang di Bangka nggak tahu soal PR (Public Relation). apalagi London School. Tahunya hanya UI atau Trisakti. Karena itu ambil PR." Tantangan lain dalam karier di dunia hiburan yang baru dimulainya adalah rasa risih. Ia kerap meminta sutradara untuk mengizinkannya tidak memakai baju yang terlalu terbuka. Ini merupakan tantangan untuknya agar menempatkan rasa risih secara tepat. "Aku risih dengan pakaian yang terlalu terbuka. Sampai sekarang masih belajar untuk dealing dengan fashion yang terbuka asal jangan berlebihan."

GAK PUNYA PRINSIP GAK HIDUP

Pemain sinetron Elang tayangan Indosiar ini sudah diajarkan keluarga mencintai Tuhan. Tak heran hari-hari SMP dan SMA-nya banyak diisi dengan kegiatan kerohanian. Mulai dari solis (menyanyikan ayat Mazmur Alkitab-red) sampai koor. Hijrah ke Jakarta, sibuk kuliah dan bekerja setelah lulus kuliah membuatnya kehilangan saat-saat indah pelayanan. "Sekarang jadwalku lumayan padat, tapi aku berusaha membagi waktu sebaik mungkin biar tetap bisa ikut koor."

Putri pasangan Gunawan Basri dan Chatarina Erliani ini bersyukur sejak kecil diajarkan sayang pada Tuhan. "Tuhan Yesus itu baik, Dia yang menyayangi, melindungi kita. Jadi, kita harus sayang Tuhan Yesus. Kita ini anak Tuhan Yesus, coba kalau sudah besar anak kita tidak nurut sama orangtuanya pasti kecewa," Sandra menirukan ucapan ibunya. Sayangnya pada Tuhan ditunjuk-kan dengan memantapkan iman bahwa semua yang terbaik dan menjadi bagiannya pasti akan diberikan Tuhan.

Sebaliknya sekeras apa pun usaha dan doa, tapi kalau permintaan itu bukan yang terbaik maka tak akan pernah jadi milik. "Satu kali aku punya permintaan, tapi tidak terkabul. Belakangan Tuhan perlihatkan, itu bukan yang terbaik untuk aku," paparnya tanpa mau menjelaskan apa gerangan permintaannya itu. Pesan ibu terpatri kuat dalam lubuk hati, bahwa manusia tak akan pernah bisa membalas kasih Tuhan. Sebab itu Sandra tak jemu-jemu tetap memberikan yang terbaik dan tidak malu menjadi anak Tuhan dengan cara menjaga tubuh sebagai bait Allah. Di lokasi syuting ia terkenal anti dugem, rokok, dan minuman keras. "Aku bangga dengan imanku. Kalau pun diajak dugem aku pasti nolak dan lama-lama mereka ngerti. Untuk ini aku memang strict," jawabnya.

Tak takut dianggap kuper atau dijauhi? Menjawabnya, bintang iklan produk kecantikan pemutih wajah ini mengatakan bahwa berteman dengan semua orang boleh saja, tapi harus punya prinsip. "Satu tahun di Jakarta sendirian, kalau tidak inget Tuhan dan tidak punya prinsip aku bisa merokok atau gila dugem. Itulah prinsip hidupku dan menjalankannya tidak ada masalah." Tak ada kata menyesal atas iman dan prinsipnya. Yang terpenting adalah Tuhan sudah teramat sangat baik, tak mungkin ia "menjahati" Tuhan dengan menjadi orang yang tak tahu diri.

ANTARA HIDUP DAN MATI

Ngobrol banyak hal dengan Sandra selalu seru dan penuh keceriaan. Tak terkecuali tentang persepuluhan dan penghasilan. Dengan ringan ia menjawab, "Untuk berbagi, aku lihat dulu keluarga dan kerabat yang membutuhkan. Soal persepuluhan itu pasti! Kan masih ada sisa 90 persen. Jadi, persepuluhan itu ya harus."

Soal keluarga, ada satu kisah tentang ayahnya yang bagi Sandra, kalau bukan karena Tuhan tak mungkin ayah menoleh padanya. Sandra yang berusia 11 tahun dan dua adiknya bermain di tepi muara yang banyak buaya, daerah tempat ayahnya bekerja. Adiknya hanya ingin mencuci kaki. Lantaran terpeleset terjatuhlah ia. Segera Sandra dan adik nomor duanya menolong. Bukannya dapat menarik sang adik, keduanya justru ikut terjatuh. "Anginnya sangat kencang. Maka minta tolong sekeras apa pun, kalau seseorang tidak melihat, tak akan tahu ada yang butuh pertolongan. Setelah berteriak sekuat mungkin, aku berdoa dalam hati. Badanku sudah tenggelam. Antara hidup dan mati. Gak tahu gimana Papaku melihat dan menolong. Setelah kami naik ke atas kami melihat buaya di muara itu."



~ jawaban.com ~

Yuanita Christiani - TUHAN YESUS tidak tinggal diam

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 18.38

Kejadian pahit pernah menghampiri Yuanita Christiani (22). Beberapa hari sebelum syuting, kontrak yang sudah disepakati tiba-tiba diputus sepihak. Tapi, Nita tak menyerah.

Nita, panggilan akrab anak kedua dari tiga bersaudara ini duduk di sofa krem berukuran besar. Siang itu, ia terlihat begitu segar. Kulit putihnya tampak kontras dengan sack dress ungu yang membalut tubuh semampainya. Rambut pendek berponi yang menutupi seluruh dahinya, membuat si pemilik wajah oriental itu terkesan aktif dan dinamis.

SELEB CURHAT DAN ESPRESSO

Satu public figure. Satu orang awam. Dari barisan bangku penonton, tepat di baris pertama duduk pelatih. Menatap tajam kedua anak binaannya yang tengah pentas di panggung. Juri tak kalah seriusnya memperhatikan gerakan demi gerakan. Program apakah yang dimaksud? Seleb Dance. Bersama Panji, rekannya yang kocak, keduanya memandu acara Seleb Curhat-membahas keseharian peserta Seleb Dance di ANTV. Sesekali ia tertawa lepas, mengulas gaya lucu nan unik para public figure di sela-sela latihan maupun saat tampil. Tak jarang rasa mellownya pun tertangkap kamera tatkala keduanya membahas peristiwa yang mengharu biru di antara penari, seleb dan pelatih. Gaya kenesnya dalam membawakan Seleb Curhat terlihat pas dengan sosok model iklan shampo ini.

Lain Seleb Curhat lain pula gayanya sebagai pemandu acara infotainment, Espresso. Memandu acara tersebut, pembawa acara Quiz Liga Italy ini tampil ceriwis dalam memaparkan tiap berita rekan artis sesamanya, tapi tetap tampil cantik. Banyak bekerja dengan stasiun tivi tersebut, Nita menganggapnya sebagai keluarga. “Karena sudah dekat, mereka sudah aku anggap sebagai keluarga. Yang nggak mungkin aku lupa saat crew mem-buat pesta kejutan di hari ulang tahunku,” ulas perempuan yang sempat merasa nggak pede jadi bintang iklan. Sebagai pemandu acara tari ia dituntut bisa menari, bukan hanya sekadar tahu. “Aku kan orangnya kaku. Gak bisa nari. Biar lebih luwes membawakan acara ini, aku diberi waktu untuk kursus. Mulai dari salsa, dangdut, chaca, dan R&B, sekarang aku su-dah lumayan menguasai. Sekarang jadi kepingin mahir lagi,” ucapnya sambil tersenyum. Niat alih profesi ya?!

Kedua acara tersebut cukup ampuh mengorbitkan namanya di bidang presenter. Mengapa? Pasalnya ini adalah tahun kelima ia wara-wiri di dunia hiburan. Sebelumnya D’Trex dan Berbagi Suami sempat memasang wajahnya. Menelisik jauh ke belakang, berbagai iklan mulai dari shampo, sabun sampai mie instant telah ia bin-tangi. “Aku percaya Tuhan punya waktu untuk masing-masing anak-Nya. Dan sekarang bagianku.”

Tak takabur dengan berkat Tuhan saat ini, ia juga menyadari persaingan itu tak terhindarkan. Bukan saja ketika namanya melangit. Dari pengalamannya, kapan pun ia dapat tersingkir. “Tiap hari banyak muncul yang lebih cantik. Pernah satu kali ketika sudah deal untuk suatu acara, tiba-tiba aku tersingkir karena ada model baru,” ujarnya tanpa bisa lupa kekesalannya saat itu. Hal inilah yang mempersiapkan dirinya untuk lebih berlapang dada. “Kecewa? Pasti! Tapi setelah berpikir tenang, aku melihatnya itu bukan rezeki aku. Akhirnya aku tetap bisa bersyukur,” jelas juara satu Yamaha Electone Festival Tingkat DKI Jakarta semasa sekolah.

BERPENGHASILAN, LEGALITAS HIDUP BEBAS

Memulai karier sebagai bintang iklan ketika masih berseragam putih abu-abu secara otomatis ia punya penghasilan sendiri. Tapi justru karena punya uang sendirilah yang mengantarkannya pada satu kesedihan tertinggi. Dirinya terpuruk dan kosong. Mahasiswa London School ini menyebutnya sebagai masa transisi perpindahan usia. “Satu masa di mana aku harus berperang melawan egoku. Apa-lagi sifat dasarku keras. Apa yang mau aku lakukan pasti aku lakukan. Aku pikir punya duit sendiri jadi lengkaplah kesombonganku.”

Merasa mampu hidup mandiri dan bertindak semaunya, jadi pilihannya. Kemandirian yang tidak tepat membuat Nita jauh dari keluarga. Apa yang dilarang itulah yang dilakukan. Bahkan jauh dari Tuhan. “Saat itu aku menjadi orang yang nggak mau dinasehatin. Tidak perlu ke gereja. Hubungan dengan Tuhan aku sepelekan. Parahnya nggak butuh Tuhan. Nggak ada yang lebih penting selain senang-senang!” kenangnya. Selama masih hidup masalah akan selalu ada. Saat merasa masalah yang ia alami tak sanggup lagi dibendungnya, maka timbullah pemberontakan. “Masalah demi masalah datang, diperparah aku tipe penyimpan. Apa-apa aku simpan sendiri. Dan itulah puncaknya,” paparnya tanpa mau berbagi lebih rinci tentang persoalannya.

DIMERDEKAKAN FIRMAN

Usai sibuk dengan kepentingan diri sendiri. Ia kelelahan juga. Kini tinggalah ia yang tak tahu harus apa. Dalam kegamangan seorang teman mengatakan, kalau kamu mau berserah pada Tuhan, berserah total jangan setengah-setengah. Dasar Nita, ia tak langsung bisa percaya. Ia memilih menyendiri untuk mencari tahu apa sesungguhnya yang ia butuhkan.

Kesepian. Kosong. Hampir saja mengantarkannya bunuh diri. Belum sempat hal itu terjadi, ia meraih Alkitab. Buku tentang Allah, pribadi yang selama ini tak terlalu ia gubris. “Aku sangat bingung dan kacau banget. Aku buka Alkitab dan langsung terlihat dari 1 Korintus 10, yang mengatakan pencobaan-pencobaan yang aku alami pencobaan biasa dan sebenarnya aku sanggup melewatinya,” jelasnya tanpa lupa mengakui ia lupa ayat berapa. Nita tak memilih kitab apa yang akan dibacanya. 1 Korintus 10 : 13 terbuka dihadapannya. Selesai membaca ia sungguh dikuatkan. “Itulah titik balik dalam hidupku. Tahu dan sadar sepenuhnya Tuhan tidak tinggal diam. Dia merangkul aku,” ceritanya dengan mata berair. Air dikelopak matanya tak terbendungkan.

Meski kerap ia menumpahkan egonya pada keluarga, pertalian darah tetap tak terpisahkan. Kasih yang kuat itu tetap ada. “Padahal aku anak yang kurang ajar pada keluarga. Tapi mereka tetap sayang dan peduli.” Kesadarannya tak hanya manis dalam ucapan. Ia membuktikannya. “Perubahan dan kembalinya aku juga karena keluarga. Karenanya dengan kejadian itu aku jadi lebih kuat dan makin sayang keluarga,” kisah perempuan yang selalu beribadah tiap minggu bersama keluarga di GBI IKM Honda.

Kecuali di atas, yang sangat dirasakan talent iklan salah satu bank ini adalah selalu ingat ia Anak Tuhan. “Nggak bisa lupa kalau aku anak Tuhan. Ini membuat aku selalu bersyukur dalam segala hal. Termasuk ketika aku sedang nggak ada pekerjaan aku tetap bisa bersyukur,” cerita perempuan yang saban malam bersaat teduh ini. Kalau sekarang nggak pernah sepi job lagi kan?!

HIDUP ADALAH PELAYANAN

Kendati hidupnya pernah kacau, Nita yang ramah ini sempat aktif pelayanan, sebagai pemain keyboard. “Selama SMP aku main musik di gereja. Untuk sekarang ini belum bisa bagi waktu. Jadi vakum dulu.” Vakum pelayanan di gereja bukan lantas berhenti berbakti pada Tuhan. Hidupnya sekarang ini juga merupakan sebuah pelayanan yang Tuhan percayakan. “Hidup aku termasuk kegiatan sehari-hari yang aku jalani ini adalah bagian dari pelayanan.”

Misalnya, ia mencontohkan, ketika diundang sebagai bintang tamu ia akan menyaksikan perjalanan dan kisah hidupnya. “Dengan begitu aku bisa memberkati orang,” imbuhnya singkat.Masih tentang berbakti, presenter cantik ini tak alpa untuk memberikan persepuluhan. Bukan untuk sombong-sombongan tapi ia ingin bersaksi bahwa tak selamanya artis lupa Tuhan. “Aku selalu terapkan persepuluhan. Atau pun ucapan syukur lewat adikku yang setiap bulan rutin mengunjungi panti asuhan bersama komselnya,” cerita Nita.

Bila sedang menjalani profesinya maka inilah yang dilakukannya, berdoa. Menurutnya hal itu sederhana saja, tapi ia melakukannya dengan sepenuh hati. Bukan hanya berdoa seorang diri, dipastikan ia selalu mengajak crew satu produksi untuk berdoa sebelum syuting. Penikmat jus buatan sang mama tiap pagi ini mengaku hidup adalah pelayanan. Jadi tak selalu harus dari mimbar untuk mengartikan pelayanan. Selama kita hidup itu pula yang kelak akan kita persembahkan pada Tuhan. Demi hal ini Nita tak main-main. Pemikiran serupa juga pernah terucap dari sang bunda. “Mama pernah bilang, mata mama cuma dua. Mama nggak tahu kamu ngapain aja. Tapi mata Tuhan ada di mana-mana. Ia tahu apa pun yang kamu lakukan,” tiru Nita. “Jadi prinsipnya takut Tuhan saja!” kata Nita.
~ bahana ~

MELESAT DENGAN KAKI CACAT

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 17.59

Farida Oeyono Bisnis Melesat dengan Kaki Cacat

Farida Oeyono (47) yang akrab dipanggil Afa baru empat tahun saat demam menyerangnya. Pagi itu, saat bangun tidur tubuh kecilnya panas dingin. Kaki Afa lemah tak mampu untuk berjalan. Ia tak lagi lincah bermain. Berbulan-bulan hanya berbaring.

VIRUS POLIO

Afa memutar ingatannya. Tahun 1964, Pangkal Pinang, Bangka, tempat tinggalnya belumlah seperti sekarang. Saat itu, fasilitas kesehatan teramat minim. Bahkan, seingat Afa, di sana hanya ada satu dokter. Akhirnya orangtua membawa Afa ke sinshe, diberi obat masuk angin.

Tak terbayangkan bahwa itu ternyata virus polio. “Kami tinggal di kampung, jadi kurang informasi kesehatan. Orangtua mengira cuma masuk angin biasa,” tutur anak kelima dari delapan bersaudara pasangan Tjen Sui Ho dan Harjanto Oeyono. Pekerjaan orangtua Afa adalah petani sederhana dan pedagang es keliling. Mereka sibuk bekerja tiap hari untuk bisa memenuhi kebutuhan. Oleh sinshe pula, Afa disarankan berobat jalan dan diterapi di rumah. “Kakek merawat saya hampir setahun. Kaki direndam air hangat supaya peredaran darah lancar. Kalau pagi, saya diajak berjemur supaya kena sinar matahari.” Afa belajar berjalan kembali. Ia membutuhkan bantuan tangan orang lain untuk memegangnya berjalan. Jalannya tertatih. Langkah demi langkah.

bahanaKASIH DI SEKOLAH

Masuk SD di usia 8 tahun, Afa sudah bisa berjalan sendiri meskipun tak seperti dulu lagi. Kakinya lemah. Tak kuat berdiri dan berjalan lama. Kalau berjalan pun sedikit pincang. Meskipun berbeda dari teman-teman sekolahnya, Afa tidak minder. Ia bebas berteman tanpa merasa dibedakan. Mereka baik bahkan kerap menolong Afa tatkala membutuhkan bantuan.

“Saya sekolah di pendidikan Katolik. Suster dan pastor membantu saya. Mereka juga sering datang ke rumah memberi arahan pada orangtua, mengajari saya mandiri dan percaya diri. Pastor Lambreta, orang Belanda, pernah mengajak saya sekolah di YPAC di Solo, tapi orangtua menolak.”SMP, suster mengajari Afa membuat rajutan. Kemudian hasil rajutan dijual pada suster-suster dari Belanda. Mereka senang dan menghargai hasil karya penyandang cacat. “Kadang dapat Rp5.000,- sampai Rp10.000,-. Wah senangnya bukan main,” kenang Afa tersenyum.

Pertambahan usia membawa perubahan perasaan Afa. “Ketika udah gede, masuk SMEA saya mulai minder. Berangkat sekolah pagi-pagi sekali supaya nggak ketemu banyak teman, menghindar. Jam istirahat, hanya duduk di kelas. Teman-teman sih mengajak keluar, saya tolak. Saya merasa beda dari yang lain.” Teman-teman sebaya mulai bicara pacaran. Nonton film atau acara anak muda lainnya. Afa hanya terdiam. Tak mengomentari atau terlibat dalam pembicaraan. Ia malu.

INGIN MANDIRI

1978. Lulus SMEA, Afa nekat keJakarta menyusul kokonya, Muk Sak. Afa sempat melamar menjadi tukang jahit di perusahaan konveksi. Namun mengalami kesulitan dengan mesin jahit listrik. Kaki kanan Afa terasa sakit saat menginjak mesin, bertahan hanya 2 hari saja. Lalu Afa melontarkan keinginan untuk bekerja pada kokonya. Muk Sak tidak setuju dan minta Afa tinggal di kampung saja, menerima uang bulanan darinya. Afa berontak, ia tak mau mengandalkan kiriman. Ia harus bekerja. “Koko keberatan saya bekerja. Dia nggak tega, tapi tak mampu menolak. Karena saya bilang, kalau nggak diterima di tokonya, saya akan cari di tempat lain. Akhirnya saya diterima.” Afa mengerjakan banyak pekerjaan operan kokonya. Dari pemesanan, ngecek dan mengurus pengiriman barang. Sedangkan Muk Sak memperluas usaha di luar kota. Seluruh pekerjaan di Jakarta, di bawah pengawasan Afa. “Wow… tanggung jawab besar. Ini tantangan. Saya berdoa minta kekuatan Tuhan.” Kadang Afa harus melakukan pekerjaan dengan cepat. Tenaga kerja terbatas. Afa harus bisa melakukan pekerjaan seperti ngepak barang-barang dan “lari” ke gudang menghitung barang masuk.

Ketika melakukan tugas “di luar meja”, orang-orang melihat keadaan kaki Afa. Inilah proses belajar Afa untuk tidak malu kondisinya diketahui orang lain. Hampir seluruh teman bisnis adalah kaum pria.

MERINTIS USAHA

Toko bangunan pertama milik kokonya berada di Pasar Jembatan Merah. Setelah hampir 17 tahun mengerjakan pekerjaan kokonya, Afa tertantang membuka usaha sendiri. Mampukah? Pertanyaan itu selalu timbul tenggelam di hati dan Afa coba menepiskan. Bukankah selama ini Tuhan telah menolong? Melakukan hal-hal yang tak pernah terlintas dipikirannya.

Maka ketika keinginan itu tumbuh di hatinya, Afa membawanya pada Tuhan. Kerinduan itu hanya disimpan dalam hatinya. Baru dua tahun kemudian Afa memberanikan diri mengungkapkannya pada salah satu importir. “Dialah Ko Bun Ing, pemilik Toko Besi Gunung Subur, Surabaya. Ko Bun Ing menanggapi dengan positif. Dulu, pertama kali melihat kaki saya, dia bilang nggak perlu malu dan minder.” Afa senang seperti mendapat tanda untuk bisa mandiri. Masalah selanjutnya, bagaimana ia menyampaikan keinginannya itu pada kokonya. Ada perasaan tak enak hati, tapi sesuatu harus dicoba. “Meskipun agak khawatir, koko senang saya mau berjuang. Cici juga mengkhawatirkan kondisi saya, bagaimana kalau orang meremehkan dan menipu saya. Namun akhirnya mereka melepas saya…”

Selama bekerja, Afa rajin menabung. Menyimpan uangnya dari tahun ke tahun. Tabungan itulah yang dipakainya merintis usaha di tahun 1995. Ditambah lagi Muk Sak memberinya uang jasa.Afa kaget ketika beberapa importir menelepon mengucapkan selamat atas langkah beraninya. Tak hanya itu. Mereka juga mengatakan siap menyuplai barang-barang yang dibutuhkan Afa. “Ko Bun Ing telepon ke importir lain untuk bantu saya. Bahkan dia bilang akan back up kalau usaha saya ada apa-apa.”

RANCANGAN-NYA INDAH

Dua belas tahun sudah, Afa punya usaha sendiri. Menyemai harapan dalam keterbatasan. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Afa membeli dan menempati ruko Permata Kota berlantai 3 di daerah Tubagus Angke, Jakarta Barat. Di tempat inilah Afa ngantor. Selain toko-toko bangunan di Jakarta, Afa juga memasok di daerah Sumatera, Jambi, Palembang, Lampung, dan tempat kelahirannya, Bangka. “Kalau ketemu teman sewaktu di Bangka, mereka suka bilang, nggak kira Fa, kamu bisa begini… Saya bilang ini karena pertolongan Tuhan.”

Melalui jerih payahnya, Afa bisa keliling ke banyak negara. Salah satunya melancong ke Gedung Putih, Washington DC. Ah, manalah terpikir semua itu. “Di Gedung Putih saya terharu banget, ketika datang langsung disambut polisi wanita. Dia mengawal, melayani penuh keramahan dan memberikan jalur khusus karena kondisi kaki saya. Saat di lift, momen tak terlupakan. Kursi roda saya menginjak kaki tentara, eeh malah dia yang berulang kali minta maaf. Padahal seharusnya saya yang minta maaf. Di negara Barat mereka sangat mengutamakan penyandang cacat,” ungkap penyuka olah raga tenis itu. Bertemu banyak orang, Afa kerap ditanya mengenai berbagai hal. Dari keterbatasan fisik sampai kehidupan pribadinya.

“Ada yang langsung tanya, anak sudah berapa? Saya jawab ada dua, laki-laki dan perempuan. Mereka di pedalaman Papua di Pantai Kasuari. Setelah menyantuni mereka lewat World Vision, saya seperti punya anak. Suatu kali nanti saya ingin bertemu mereka,” tutur Afa yang masih melajang itu tertawa. Ia bahagia, bersyukur bisa menolong orang lain mendapatkan pendidikan. Afa tergabung di Laetitia, sebuah lembaga pelayanan bagi penyandang cacat. “Padahal dulu kalau ketemu orang cacat saya sering ngumpet. Gimana ya,” kenangnya tertawa lepas. Hidup Afa membuktikan bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya. (Niken Maria Simarmata)

source : www.bahana-magazine.com

THANKS IBU INGE

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 17.55

Kisah Inspirasional Kisah Inspirasional

SENDIRI DAN TERTINGGAL

18 Desember 1987. Tanggal itu tak pernah terhapus dari ingatanku. Satu per satu temanku meninggalkan asrama untuk merayakan Natal bersama keluarga. Sepi. Suasana asrama tempatku tinggal selama kuliah di Hannover, Jerman. Tiga tower, masing-masing berlantai 10 itu terasa lengang. Satu lantai rata-rata dihuni 25 orang. Dan Natal 1987, di lantai yang kutempati, aku hanya ‘sendirian’. Maka bagi yang ‘tertinggal’, biasanya kami berkumpul bersama. Memasak dan makan ramai-ramai. Karena setiap tanggal 24 Desember, hampir semua toko dan restoran tutup setengah hari. Malam Natal itu semua orang berkumpul di rumah bersama keluarga masing-masing.

BERTEMU IBU

Selain kuliah aku juga bekerja di restoran Chinese. 1995, di sana aku mengenal Inge Sturhmann (60). Perempuan tua itu sebenarnya tinggal jauh dari restoran tempatku bekerja. Ia menjadi pelanggan restoranku karena menengok ibunya yang tinggal di dekat restoran. Hampir seminggu sekali Inge datang. Kami mengenal pelanggan restoran dengan baik. Maka ketika Inge lama tak datang, aku bertanya-tanya, ada apa dengan dia? Seorang ibu paruh baya yang masih sehat bahkan menyetir mobil sendiri. Dua bulan kemudian Inge datang ke restoran. Segera saja kutanyakan rasa penasaranku. Inge lantas bercerita, ibunya yang selama ini ia tengok sudah dipanggil Tuhan. Aku makin mengenalnya. Inge ternyata hidup sendiri. Suaminya telah lama meninggal dan mereka tidak memiliki anak.Dalam persahabatan kami selanjutnya, Inge telah menganggapku sebagai anaknya. Dan aku pun memanggilnya ibu. Sejak itu aku merasa memiliki orang tua di Jerman.

‘PULANG’ KE RUMAH

Inge adalah pensiunan guru. Setiap kali bertemu teman-teman Inge, dia selalu memperkenalkanku sebagai anaknya. Dengan gaya seorang ibu, Inge kadang membanggakan aku dihadapan teman-temannya, “Anakku, sebentar lagi pula aku sangat menghormatinya. Aku banyak belajar darinya. Kehadiran Inge tentu saja menempati tempat tersendiri di hatiku. Ya itu tadi, aku punya orangtua di Jerman. Setiap Natal, Inge mengundangku di rumahnya. Aku seperti ‘pulang’ ke rumah orangtua. Sama seperti kebanyakan teman-teman kuliahku dengan kerinduan Natal berada di tengah keluarga. Hampir setiap Natal kami makan bersama di luar untuk merayakan Natal. Beberapa kali Inge malah memberiku uang sebagai kado Natal, 100DM sekitar Rp 100 ribu masa itu.

TETAP TERJALIN

1999. Ketika kuliahku kelar, aku berniat kembali ke Indonesia. Maka kuutarakan niat itu kepada ibu angkatku. Kuucapkan terimakasih untuk semua kebaikan dan perhatiannya padaku selama ini. Inge lantas menyatakan harapannya agar aku tetap tinggal di Jerman. Namun aku ingin tetap kembali. Maka, perpisahan itu tak dapat dihindari. Perpisahan ‘ibu dan anak’ yang berlainan negara. Inge telah mengasihiku dengan tulus. Perasaan kehilangan itu terasa begitu berat di hati kami. Sampai hari ini persaudaraan kami masih terjalin dengan baik meski-pun harus berkomunikasi jarak jauh dengan telepon. Kami selalu memberi kabar hal-hal penting yang terjadi dalam hidup kami. Misalnya ketika tahun 2002, saat aku menikah.

Beberapa kali aku ke Jerman karena urusan pekerjaan. Aku selalu menyempatkan diri datang menemuinya. Tahun lalu, 2006, aku dan isteriku, Vivi Hadikrisno mengunjungi Inge. Betapa senang kami bisa bertemu kembali. Setiap Natal, aku selalu mengingat kenangan manis itu. Aku tidak sendirian di negeri orang. Tuhan mengirimkan seorang ibu yang mengasihiku. Suasana Natal seperti ini, terbayang semua kebaikan Tuhan dan orang-orang terhadapku. Seperti kasih Inge yang telah terpahat di hatiku. “Frohe Weihnachten, Mutti. Gott segne dich. Merry X’mas, God bless you. Vielen dank… Terima kasih Ibu…” (Seperti yang dikisahkan Janimin Bonifa kepada Niken Maria Simarmata)

source : www.bahana-magazine.com

Pertolongan Tuhan Dalam Kesulitan

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 17.53

Inspirationals

bahana Menghitung kebaikan Tuhan memang tidak pernah ada habisnya. Erni Johan (31) pernah merasakannya. Lulus Diploma 1 Akuntansi di Solo, tahun 2001 aku ke Jakarta. Kerja apa sajalah, pikirku. Asal rajin, kerja keras, nggak gengsi, pasti bisa hidup. Begitulah kata orang tentang Jakarta. Tiba di Jakarta, aku langsung ke kost-an kakakku, Catur. Dia melayani di persekutuan doa, di Cipinang dan gereja di Bekasi.

Aku anak ketujuh dari delapan bersaudara. Dari kecil kami terbiasa hidup sederhana. Bapak meninggal selagi kami masih kecil. Ibulah yang banting tulang mencukupi kebutuhan sehari-hari. Berjualan nasi soto, pecel, sambal goreng, dan beberapa makanan. Aku bisa kuliah atas kebaikan kakakku, Mas Harso. Dialah yang menopang biaya selama satu tahun kuliah.

MENJADI PENJAGA TOKO “Er, ada lowongan jaga toko buku rohani, mau?” tanya Mbak Catur ketika kami ngobrol berdua di kamar. Mendengar info itu aku senang sekali. Karena sudah tiga bulan di Jakarta tanpa pekerjaan. Bosan dan mulai stres.Pada hari yang ditentukan aku datang ke toko buku rohani di Kebon Jeruk, Jakarta Barat untuk wawancara. Gaji yang ditawarkan Rp350 ribu. Dalam hatiku berapa sajalah yang penting dapat pekerjaan. Aku setuju. Tiga hari kemudian mulai kerja.

Terima kasih Tuhan, doaku dikabulkan. Sepanjang perjalanan pulang, aku mulai menghitung-hitung pengeluaran sebulan. Kalau pulang pergi dari kost Mbak Catur, selain jauhnya nggak kira-kira, gajiku habis untuk ongkos. Kost? Aku dengar di Kebon Jeruk tak kurang dari Rp250 ribu. Lalu dari mana aku makan?

DITOLONG TEMAN

Hari pertama kerja, aku bertemu dengan Ci Lily. Pekerja gereja yang juga akan bersamaku mengelola toko buku itu. “Erni, mau tinggal sama aku?” tanya Ci Lily membuyarkan lamunanku. Ku-pandang wajah Ci Lily yang tersenyum padaku. Ia sedang tidak basa-basi. “Nggakngerepotin, Ci?” tanyaku meyakinkan tawarannya. “Nggak Erni, ngerepotin apa? Sudahlah, nggak usah kamu pikirin. Kita bisa sama-sama,” katanya. Kuucapkan terima kasih padanya.

Dua bulan aku menumpang di rumah Ci Lily. Semakin mengenalnya, aku melihat ketulusan hatinya. Ia baik pada setiap orang. Aku ingin mandiri, nggak enak terus-terusan numpang. Tapi kalau kost, uangku tak cukup. Aku tetap berdoa menyampaikan kerinduanku pada Tuhan. Tak lama, aku berkenalan dengan Erni Claudia, bekerja di gereja. Dia menawarkan kost yang sangat murah hanya Rp75 ribu saja. Aku menempati kamar seharga Rp250 ribu. Puji Tuhan!

Selalu saja ada pertolongan, itu yang aku rasakan ketika kesulitan datang. Begitu juga dengan keperluan sehari-hari, aku mencoba mencukupkan diri dengan apa yang ada. Mengucap syukur dalam segala perkara. Kalau dirasa uang kurang, aku belajar untuk tidak berpikir ngutang.

KEBAIKAN TUHAN

Oleh gereja aku dipindah ke pelayanan orang tua asuh, namanya Kota Daud. Memberi bantuan biaya pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Salah satu pengurusnya Ibu Meijanti Wijaja, aku memanggilnya Ci Mei.“Er, sini…”, kata Ci Mei satu siang. Aku datang mendekat. Wah… jangan-jangan aku melakukan kesalahan. Kuterka-terka dan kuingat apa yang kulakukan di waktu lalu.

“Ini ada berkat untukmu, semoga pas dan kamu senang….” Ci Mei mengulurkan tas. Aku masih terdiam. “Pakaian…” kupandang wajah Ci Mei, kuterima tas itu dan mengucapkan terima kasih padanya. Air mataku jatuh ketika mencoba satu per satu lima potong pakaian itu. Selama ini mana terpikir membeli pakaian. Bisa makan tiap hari saja sudah sangat bersyukur.

Kebaikan Ci Mei tidak hanya itu saja. Setiap kali dia pergi ke luar kota atau ke luar negeri selalu membawa oleh-oleh untukku dan beberapa teman pelayanan. Aku terharu dengan perhatiannya, sempat-sempatnya orang sesibuk dia masih mikirin oleh-oleh untuk kami. Satu kali Ci Mei memberiku kalung. Kali lain, ia memberi cincin emas. Dan setiap ulang tahun, dia selalu memerhatikanku.

Tuhan juga mengirimkan kebaikannya melalui Bu Hartati, salah satu jemaat gereja yang memberiku amplop berisi Rp100 ribu per bulan selama setahun. Padahal waktu itu Bu Hartati dalam keadaan susah. Suaminya telah dipanggil Tuhan saat usaha yang dijalankannya bangkrut sehingga Bu Hartati harus berurusan dengan banyak pihak. Aku tak dapat menghitung kebaikan Tuhan yang memeliharaku di waktu lalu, kini, dan selamanya. Terima kasih…(Niken Maria Simarmata)

WANITA YANG BUTA

Written by KESAKSIAN KRISTEN on 17.36

Syanni Susan Pankey - Menjadi Pemenang Dalam Kebutaan

bahanabahana

Because Of Him

“Akibat kecelakan itu hidung saya hancur. Pipi kiri, pipi kanan, rahang dan dagu, patah. Mata saya buta” jelas Syanni Susan Pankey (43) mengawali “kisah kelabu”nya.

Kecelakaan Tragis

25 Juni 1987. Gerimis turun. Mobil VW Combi antar jemput karyawan yang ditumpangi Syanni dari arah Citereup – Bogor ke Jakarta menabrak pantat truk yang melintang di jalur mereka lewati. Mobil terguling dan terhempas. “Dari 10 karyawan, empat orang meninggal. Depan, dua penumpang, dan sopir. Seorang yang meninggal duduk di sebelah saya. Satu orang gegar otak, satu orang patah kaki, satu orang patah rusuk. Paling parah saya. Wajah, hidung, dan gigi hancur. Mata kena pecahan kacamata yang saya pakai”.

Setelah kecelakaan tragis itu, Syanni dibawa ke RS. UKI Karena peralatan tidak lengkap ia lalu pindah ke RS. Cipto Mangun Kusumo Sembilan hari di sana belum juga mendapat penanganan. “Mereka belum pernah mendapat kasus seperti saya. Jadi, mereka membentuk tim dan meeting melulu. Hari ke-10 barulah saya dioperasi.”Hampir 2 bulan Syanni di rumah sakit. Mulut diveksasi. Setelah 6 minggu, veksasi diangkat. Gigi palsu bawah saya ke depan. Hampir seluruh wajah saya termasuk mulut diperban, sehingga komunikasi dengan dokter, suster dan keluarga dilakukan dengan menulis. Untuk bernafas tenggorokan Syanni dilubangi dan dipasang alat.

Ingin Mati
Pulang dari RS. Cipto, kedua mata Syanni ditutup. Setiap kali tanya ke dokter yang kontrol, selalu dijawab, masih diusahakan. Mendengar itu ia terus berharap matanya pulih. Syanni sedih karena banyak bergantung pada orang lain. Padahal ia anak pertama yang selama ini bekerja membantu ekonomi keluarga. Sehari-hari ibunya menerima jahitan dan pesanan kue. “Papa meninggal 1 tahun sebelum peristiwa itu. Ketiga adik saya sangat butuh biaya sekolah. Satu adik saya kuliah, SMP dan satu lagi SD” ungkap jebolan ASMI (Akademi Sekretaris Manajemen Indonesia).

Satu kali ketika ibunya ke pasar dan pembantu di dapur, Syanni nekad ke kamar mandi sendiri. Ia kejedot dinding. Wajah yang masih diperban itu bengkak. “Saya down. Saya buta. Tapi masih berharap bisa melihat karena pemeriksaan belum selesai.” Syanni kerap bertanya pada Tuhan tentang musibah itu. Kenapa semua ini terjadi? Engkau Mahakuasa. Tuhan kan bisa lalukan kecelakaan itu? Tapi kenapa nggak bikin? Itu sangat mudah, kalau Tuhan mau.

Pikiran Syanni makin berat seperti masuk pada lorong gelap tak bertepi. Apa yang bisa dilakukan orang tanpa mata? Syanni tak sanggup menjalani kehidupan tanpa masa depan.

“Meskipun putus asa, saya tidak mau bunuh diri. Tiap malam menjelang tidur saya selalu berdoa, minta Tuhan ambil nyawa saya. Kedua tangan, saya lipat seperti dalam peti mati dan berharap besok pagi mati.” Syanni selalu saja terbangun. Kehidupan masih ada baginya. Roh Kudus memberi pengertian untuk menerima kebutaan meskipun harapan kembali normal tetap ada.

Bertemu dr. David

November 1987. Operasi kedua di RS. Harapan Kita. Sebelumnya Syanni sangat senang bertemu dengan dokter ahli David J. David AC dari Australia. Dokter ini didatangkan untuk menangani kasusnya. David penuh kasih dan lembut. “Good morning dear, begitulah dia menyapa saya. Setiap pagi mengontrol sembari mengelus-elus pundak atau tangan saya. Di ruang operasi dia berkata, ‘I’ll do my best and you pray.’ Wah, mendengarnya menyentuh banget di tengah keputusasaan. Dia menjelaskan tindakan detail yang akan dilakukan pada wajah saya.”

Usai operasi, Syanni merasakan seluruh wajah sakit. David menguatkan Syanni. Dia pamit akan kembali ke Australia dan Syanni ditangani dr. Kuswara. Syanni kehilangan. Lalu bertanya, “How about my eyes?” David memegang Syanni, “Sorry, I can’t help your eyes”. Tangis Syanni tak bisa ditahan. David menjelaskan kalau dia bukanlah dokter ahli mata dan hanya mengurusi wajah Syanni. Padahal dalam bayangan Syanni, David akan mengurus matanya juga. “I don’t want to be blind. I want my eyes”.

Itulah kata-kata yang diucapkannya dalam isak tangis. Syanni pasrah. Hatinya hancur. Syanni bolak-balik ke dokter membuka jahitan. “Saya juga harus ke dokter kalau pen di wajah ditolak oleh tubuh harus dikeluarkan. Artinya tulang menyatu, pen menekan saraf. Rasanya seperti kesetrum. Sakit sekali.”Setelah operasi Syanni mendapat “hidung baru”. Tulang hidung diambil dari tulang rawan dari tulang rusuknya. Akibatnya, sampai sekarang Syanni tidak kuat berdiri lama. Di wajah Syanni ada 30 pen ukuran kecil dan besar. Bentuknya seperti mur. “Seluruh biaya ditanggung Sandoz Biochemie, tempat saya bekerja. Mereka juga menyediakan mobil kantor untuk keperluan transportasi ke rumah sakit. Teman-teman dan para pimpinan juga kerap menjenguk.”

Operator Telepon

Mr. Supka, orang Norwegia, pimpinan perusahaan memanggil Syanni ke kantor. Menanyakan apakah Syanni mau kembali bekerja? Syanni kaget. Pekerjaan apa yang bisa dilakukan dengan kondisi seperti itu? Supka mengatakan bahwa operator telepon di kantor pusat, Swiss, juga seperti Syanni, buta. Ah, nggak pernah terbayang akan kembali bekerja. Motivasi yang diberikan Supka menumbuhkan kepercayaan Syanni. “Orang lain saja percaya saya masih bisa do something, kenapa saya nggak? Mr. Supka juga bilang tak masalah kalau saya bolak-balik ke rumah sakit untuk operasi. Oleh kantor, saya dileskan private Braile. Pertama kali pegang huruf Braile, saya menangis. Tapi saya berpikir ini tantangan.”

Februari 1988, Syanni bekerja sebagai operator telepon. Menangani 15 lines telepon dari dalam dan luar negeri, untuk 150 extention. Awalnya Syanni diberi tempat di front office bersama dengan resepsionis. Tapi karena nggak percaya diri, Syanni minta duduk di dalam. “Orang yang telepon tidak tahu kalau saya buta.”

Tahun 1992, Syanni menjadi utusan PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia). Untuk mengikuti pertan-dingan keterampilan penyandang cacat se-Asia Pasifik di Hongkong. Pertimbangannya, Syanni bekerja sebagai operator telepon dan bisa bahasa Inggris. “Puji Tuhan, saya juara tiga, dapat perunggu,” kenang penulis buku Panduan Operator Telepon untuk Tuna Netra. Sebelum berangkat dan sesudah pulang ke Hongkong, Syanni dan rombongan bertemu dengan Ibu Kepala Negara waktu itu, Tien Soeharto. Ia diwawancarai beberapa TV dan kisahnya ditulis di media cetak.

TidaK Menyerah

Tahun 1999. Syanni menikah dengan Eddy Oetomo, tuna netra juga. Tak lama kemudian Syanni hamil. 11 Oktober 2000, ia melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Enryco Oetomoputra.Akhir 2005. Syanni keluar dari perusahaan. Keputusan diambil karena ada perubahan manajemen, setengah dari divisi perusahaan tempatnya bekerja tutup. Kebetulan juga perusahaan membuka “paket” bagi mereka yang mengundurkan diri. Uang pesangon itulah yang digunakan Syanni merintis usaha baru yaitu toko di depan rumah. Usaha yang dilakukan Syanni cukup unik. Selain toko, Syanni juga mencari order housekeeping perusahaan atau pabrik. Usaha yang dikelolanya merangkak maju. Kini sudah ada 8 perusahaan yang ia tangani. Dari keperluan rumah tangga seperti gula, kopi, teh, tissue, cairan pembersih, alat tulis kantor, kursi, cangkir, dll.

Syanni memperkerjakan dua karyawan: Satu di dalam dan satu orang lagi tugas luar mengantarkan pesanan dengan motor. Bila pesanan banyak maka Syanni menyewa mobil bak terbuka. Saat ini omzet usaha Syanni berkisar 40 jutaan per bulan. Ketika Bahana mewawancarai di rumahnya, tak hentinya telepon berdering. Syanni pun sibuk menghubungi supplier.“Kadang saya hunting mencari barang pesanan dengan membonceng motor. Kalau belum dapat, saya pena-saran. Ini tantangan dan saya senang mengerjakannya” tandas wanita kelahiran Surabaya, 7 April 1964 yang pernah jadi pembicara bagi sales COMBIPHAR di Hotel Sheraton, Jakarta Pusat.

Syanni memang pekerja keras. “Kalau saya dan suami tidak bekerja bagaimana? Kami berusaha tidak menggantungkan hidup pada orang lain”. Tak ada impian muluk. Baginya, bisa membayar gaji karyawan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah bersyukur. Melewati tiap hari tanpa keluhan itu juga kemenangan, kan?

(Niken Maria Simarmata)

source : www.bahana-magazine.com

About Me

Here I'll share my knowledge, discovery and experience related to my hobby and work. Most articles on this site are related to blog design, short reviews, tips and make money online.

Want to subscribe?

Subscribe in a reader.